Kebaya Encim Antik

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Kebaya China Peranakan

Era kebaya dimulai manakala Belanda membuka Hollandsch Chineesche Schoolen, sekolah berbahasa pengantar Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Kebaya renda adalah awal mula era kebaya. Busana ini biasanya digunakan pada acara-acara resmi.

Warga Tionghoa memang mengenal busana yang diberi nama Baju Kurung atau Kebaya Encim. Kebaya yang terkadang juga disebut dengan nama Kebaya Nyonya ini biasanya dikenakan dengan kain atau sarung batik. Kebaya era tahun 1930-an ini merupakan tinggalan budaya yang sarat dengan nilai kearifan lokal.

Bolehlah kita berharap kebaya juga akan mengikuti jejak batik yang saat ini sudah menjadi bagian dari busana sehari-hari sebagai bagian dari identitas lokal. Berminat memilikinya ?

SOLD OUT

Reklame Enamel TAKOR

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

TAKOR : Obat Maen Perempoean

Nah, kalau ditilik dari desain dan pesan tekstual pada reklame enamel ini maka ada hal yang menarik, " BOEAT PENJAKIT ROJAL " generasi yang terlahir tahun 60-an dan sebelumnya masih mengenal istilah kata penjakit rojal (baca: penyakit royal) Sungguh kalimat yang gagah, dan tentu gegabah, tapi keren dan memberi kesan terpelajar.

Menjadi saksi zaman, dari penjakit kentjing simbol pemanjaan dorongan hedonistis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa produk ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas yang tampaknya sudah lama dipasarkan hingga akhir tahun 1950-an.

Simpel dan kuat desainnya, dapat dilihat dari penataan gambar dan tipografi huruf yang seimbang dan memiliki kerterbacaan yang jelas. Reklame enamel iklan obat ini mempunyai ukuran P.90 cm x L.45 cm warna pada desain ditandai dengan adanya tekstur yang menonjol dan jika dipegang atau diraba akan terasa pembedaan warnanya.

Sayangnya, keberadaan reklame enamel bernuansa masa lampau itu kini terbilang langka dan susah ditemukan. Jika anda berminat dengan koleksi ini, bisa menghubungi saya di e-mail : kedaibarangantik@gmail.com

Setrika Antik Oriental

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Setrika China Peranakan

Peralatan rumah tangga setrika mungil ini sepertinya digunakan untuk menyetrika dasi atau topi pada masa lampau. Mempunyai ukuran T.9,5 cm x P.10,5 cm sangat jarang ditemui. Usia dan desain antiknya, menjadi daya pikat tersendiri.

Prinsip dasarnya tidak berbeda jauh dari setrika arang besi yang tertutup. Setrika unik ini diisi dengan bara panas ditekan di atas kain membentang. Kini, setelah setrika semacam ini tidak lagi diproduksi, justru banyak orang memburunya. Bukan untuk digunakan untuk menyetrika, melainkan sebagai pemanis interior.

Keindahan ruangan ditentukan oleh pemilihan dan cara memadupadankan benda-benda kecil menjadi kesatuan yang harmonis. Meski apa yang anda lihat pada peralatan rumah tangga setrika mungil kuno sebetulnya sesuatu yang sederhana, dengan penempatan yang pas, setrika antik bisa tampil prima di tengah ruangan anda.

Sudah jarang khan melihat setrika antik yang semacam ini ?? Jika anda berminat dengan koleksi ini, bisa menghubungi saya di e-mail : kedaibarangantik@gmail.com SOLD OUT

Gantungan Kelambu Oriental

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Penjepit Kelambu Oriental

Gantungan kelambu ranjang kuno dengan motif dan warna yang unik dan jarang ada memperkuat kesan oriental. Ditambah usianya yang tergolong antik, membuat gantungan kelambu kuno dengan bahan kuningan tekstur dan kerapian pengerjaan yang dihasilkan sangat luar biasa ini semakin menarik hati.

Jika dicermati motif burung hong gantungan kelambu yang terbuat dari kuningan ini memiliki makna khusus. Ia melambangkan kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. Itu sebabnya, gantungan kelambu selalu ada, terutama pada keluarga yang berkecukupan terutama para pedagang dari etnis tertentu sebagai simbol status dan keagungan.

Bagi anda yang tidak terlalu memikirkan makna sebuah simbolisasi sebuah gantungan kelambu, memasang gantungan kelambu bisa mempercantik tampilan ruangan. Mempunyai ukuran T.18 cm x L.10 cm ini sangat kental dengan pengaruh budaya China Peranakan. Kini, setelah penjepit gantungan kelambu dari kuningan ini tidak lagi diproduksi, justru banyak orang memburunya. Berminat memilikinya ?

Royal Wedding Queen Wilhelmina

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Royal Wedding Queen Wilhelmina (Circa 1901's)

Pernak pernik lama selalu mengundang perhatian karena bentuknya yang unik. Namun jika merunut sejarahnya, koleksi ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda. Bagi kalangan pecinta pernik koleksi peninggalan Dutch East Indies, kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya.

Ada hal menarik dan bernilai dari sebuah keramik Royal Wedding Queen Wilhelmina pada tahun 1901 orisinil pada era Dutch East Indies. Queen Wilhelmina of the Netherlands (31-8-1880/ 28-11-1962) dan Prince Heinrich (Hendrik), Duke of Mecklenburg-Schwerin (19-4-1876/3-7-1934) menikah pada tanggal 7-2-1901

Piring Souvenir Royal Wedding Queen Wilhelmina bentuk klasik yang mempunyai ukuran diameter 19,5 centimeter dengan seni keramik kualitas tinggi diproduksi sangat terbatas (limited edition) sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu ditampilkan lewat kualitas bahan dan detail tekstur pengerjaannya.

Princes of Mangkunegaran II

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

K.G.P.A.A Mangkunagoro II

Penguasa Mangkunegaran secara resmi bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang yang ke I, II, III...dan seterusnya dan secara fleksibel disebut dengan Mangkunegara dengan tambahan angka Romawi di belakangnya yang menunjukan pada yang sedang bertahta.

Mangkunegara II adalah nama dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunegara II Raja di Praja Mangkunegaran. Dalam penulisan sejarah sering hanya disebut dengan nama Mangkunegara II saja. Mangkunegara II keturunan lahir dari pasangan Ratu Alit dan Pangeran Hario Prabuwijaya. Ratu Alit adalah putri dari Paku Buwono III dan Pangeran Hario Prabuwijaya adalah putra dari Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa)Pemerintah Mangkunegara II berlangsung dari 1796 hingga 1835.

Elemen antik nuansa khas Jawa kuno dan tradisional memiliki sentuhan cita rasa seni menjadi daya tarik dari masa ke masa. Interior menjadi penting. Pernik interior beragam hiasan unik koleksi raja Jawa tempo doeloe banyak digunakan sebagai inovasi teknik pemasaran yang membuat pajangan barang-barang tempo doeloe, serasa bagai kembali ke masa silam, jaman kolonial.

Koleksi benuansa tradisional Jawa tempo doeloe unik ini sangat cocok untuk properti koleksi. Ketelatenan menyimpan “pusaka” kakek dan nenek, kini mempertemukan pengunjung restoran dengan “masa lalu” yang boleh jadi tak pernah dilihatnya.

Yah, itulah romantisme masa lalu... mengingatkan pada masa kita masih penuh dengan kesederhanaan kearifan lokal. Jika anda berminat dengan koleksi yang mempunyai ukuran P.81,5 cm x L.56,5 cm ini, bisa menghubungi saya di e-mail : kedaibarangantik@gmail.com SOLD OUT

Peniti Kebaya Encim

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Peniti Kebaya Perak

Menengok ke belakang, perjalanan kebaya sudah sangat panjang. Kebaya pertama kali dipakai di Indonesia sekitar abad ke-16. Kita bisa melacak kecenderungan bahwa yang diutak-atik para desainer itu tidak jauh-jauh dari kebaya dan batik. Rupanya, kebaya adalah pakaian nasional sudah tertanam kuat.

Berhubung budaya kancing belum dikenal di Indonesia, perempuan pada masa lalu memakai peniti untuk menyatukan dua sisi baju. Kebaya dihiasi dengan peniti rante (disebut peniti rante susun tiga) perhiasan aksesoris kebaya tersebut biasanya terbuat dari bahan emas atau perak. Jadilah peniti ini juga berfungsi hiasan yang mempesona.

Tentang seni pengerjaan peniti perak peninggalan masa lampau yang mempunyai ukuran tiap peniti 3 cm dan panjang keseluruhan 22,5 cm ini, motif ulir dan burung selain memukau juga khas dan unik. Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Tertarik memilikinya ?? SOLD OUT

Royal Monogram Wilhelmina

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Royal Monogram Wilhelmina

Gaya busana Indies berkembang di masa kolonial Hindia Belanda dan mengalami puncak perkembangan artistiknya di tahun 1930-an. Kancing busana terdapat logo Royal Monogram Wilhelmina dengan ditandai dengan huruf "W" sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.

Kebudayaan Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa juga terjalin dalam berbagai aspek misalnya dalam pola tingkah laku, cara berpakaian, sopan santun dalam pergaulan, cara makan, cara berbahasa, penataan ruang, dan gaya hidup.

Menarik untuk dicermati pernik berbusana mereka yang berkecukupan terutama para pedagang dari etnis tertentu dengan harapan agar memperoleh kesan pada status sosial yang sama dengan para penguasa dan priayi karena dianggap bisa dijadikan sebagai simbol status dan keagungan. Sudah jarang khan melihat aksesoris kancing jas busana ala meneer Belanda yang semacam ini ??

Ikat Pinggang Oriental

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Ikat Pinggang Oriental

Gaya oriental juga penuh dengan makna dan simbolisasi. Ini membuatnya semakin menarik. Ikat pinggang motif burung hong sungguh mempesona, aksesoris perempuan masa lalu ini memperkuat kesan oriental di bagian pinggang pakaian atau sarung kebaya terlihat glamour.

Ornamen pesisir memiliki motif yang khas, biasanya corak flora atau fauna (bunga, daun-daunan, atau burung) ini terpancar anggun oleh keindahan dan orisinalitas. Kelangkaannya yang bikin bernilai.

Ikat pinggang bermotif ini mempunyai ukuran panjang keseluruhan 63 cm dan P.4,5 cm x L.4 cm setiap kotak nya (15 kotak motif) yang berselang-seling. Jika decermati, tekstur dan kerapian pengerjaan yang dihasilkan sangat luar biasa. Tertarik memilikinya ?? SOLD OUT

Antiques Photographs

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Sebuah Jejak Peranakan...


Sebelum pertengahan kedua abad ke 20, orang Tionghoa laki-laki yang sampai ke Jawa tidak membawa keluarga mereka tetapi kawin dengan perempuan pribumi dan menetap. Dalam perjalanan waktu, tumbuhlah satu masyarakat Tionghoa Peranakan yang nyata.

Penyesuaian dan resapan budaya mereka terhadap suasana sosio budaya di era Dutch East Indies, yaitu melalui perkawinan campur yang berlaku di antara kaum-kaum China dan Pribumi pada masa itu. Kaum peranakan biasanya tidak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa China, tetapi menggunakan bahasa setempat.

Pada masa Hindia Belanda, China Peranakan telah mewujudkan satu budaya yang unik dengan mengkekalkan banyak tradisi China, seperti merayakan perayaan Tahun Baru China (Imlek) dengan mengikut budaya lokal dan juga koloni kebudayaan Eurasia (Eropa Asia).

Generasi Nyonyah yang terdahulu masih memakai pakaian kebaya dan kain sarong sebagaimana yang dipakai oleh orang-orang pribumi. Sedangkan generasi Babah menyesuaikan diri dengan kehidupan Indies, lebih berbau tradisi Eropa mulai muncul. Fenomena ini kemudian melahirkan golongan priayi baru, yang memberikan tempat kepada semua kelompok masyarakat, di bawah pemerintah Hindia Belanda.

Sekalipun kaum Tionghoa Peranakan sebagian terasimilasi ke dalam masyarakat setempat, mereka tetap terpisah dari golongan-golonganras lainnya, terutama akibat struktur masyarakat kolonial yang dibentuk oleh Hindia Belanda. Golongan Eropa menempati tempat teratas, golongan timur asing (Vreemde Oosterlingen) di tengah dan golongan pribumi (Inlanders) di lapisan bawah.

Pada masa lalu, pesta yang diadakan oleh kaum Tionghoa selalu dimeriahkan gamelan Jawa dan orkes China. Nada-nada dari dua budaya berdampingan dengan harmonis, menyanyikan lagu indah yang bisa dinikmati oleh semua orang. Itulah orang China Peranakan di Indonesia pada masa lampau...

SOLD OUT

Kotak Surat & Koran

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Tempat Koran & Surat

Kini juga berkembang gaya elektik. Gaya yang mencoba mengangkat kembali unsur-unsur antik dari masa silam. Gaya elektik ini dapat menjadi bukti bahwa gaya antik dan kolonial dari masa lalu itu masih mendapat tempat di benak sejumlah orang. Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda.

Dari segi tampilan, benda lawas tak kalah menarik dengan warna barang modern. Pernak pernik lama selalu mengundang perhatian karena bentuknya yang unik. Kombinasi konvensional dan kontemporer. Makin unik makin menarik.

Rak tempat surat dan koran dengan ukuran P.38 cm x L.24,5 cm ini mempunyai detil yang unik dan selain tampilannya sangat menggoda mata juga memiliki fungsi tersendiri. Bernostalgia ke masa lampau menjadi sangat berarti bagi sebagian orang. Sudah jarang khan melihat rak pajangan teras ala nyonyah dan meneer Belanda yang semacam ini ?? SOLD OUT

Mesin Jahit Onthel

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

PERMAK jahit pria wanita...
Jika dijabarkan, penggalan kalimat tersebut menunjukkan identitas bahwa seorang penjahit yang menerima order jahitan atau permak pakaian lintas gender. Di dalam kotak kayu terdapat tempat untuk menyimpan aneka perlengkapan menjahit, seperti benang, resleting, dan pakaian permak yang telah selesai dikerjakan.

Roda waktu terus berputar, roda mesin jahit pun tak pernah berhenti. Mesin jahit onthel merk PFAFF buatan Germany ini nampaknya belum mau dipensiunkan. Mesin jahit manual itu pun masih tampak kokoh dan mantap.

Bahkan masih berfungsi sebagaimana mestinya, walau usianya tergolong renta. Kini, setelah mesin jahit semacam ini tidak lagi diproduksi, justru banyak orang memburunya. Kesan pada masa lampau inilah yang banyak membuat orang dibuat tersenyum oleh nostalgia.

Kini mesin jahit jenis ini yang mempunyai ukuran P.45,5 cm x L.19 cm x T.30 cm tentu saja sudah jarang kita temui. Fungsinya pun tak hanya untuk menjahit, namun sebagai aksesori atau pajangan ruangan yang antik bernilai seni tinggi. Apalagi, kenangan yang dibawa peralatan menjahit itu membawa sensasi tersendiri bagi mereka yang mampu mengapresiasi profesi penjahit sebagai bagian dari identitas kearifan lokal.SOLD OUT