Chanab Peranakan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Koleksi Chanab Peranakan kuno yang mempunyai ukuran P.41 cm dan L.22 cm x T.29 cm ini punya standart kualitas sendiri. Nuansa nostalgia China Peranakan pun terasa begitu kuat.

Pembuatannya secara konvensional, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis "manisan" kuno yang motifnya klasik.

Pada umumnya "manisan " China Peranakan seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Dekorasi ornamen relief kisah legendaris Sam Kok semuanya dilakukan dengan memahat langsung pada selembar permukaan bidang kayu jati bukan berupa tempelan. 

Koleksi ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi. Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya, sebab membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Bagi anda yang tidak terlalu memikirkan makna sebuah filosofis Tionghoa, memajang Chanab Peranakan ini bisa mempercantik tampilan ruangan. 


Straits Chinese Gilded Offering Box (Chien-nab/Chanab)


Chanab biasa dipakai untuk persembahan pada Tahun Baru China, maupun perkawinan. Chanab merupakan sebuah centerpiece pada meja altar Sam Kai.

Perabot yang dibuat di China daratan mempunyai beberapa karakter berbeda dengan benda yang dibuat oleh kaum China Peranakan di Indonesia.

Selain dari jenis bahan kayunya, lacquer dan pradanya juga berbeda, terlihat pada intensitas dan cara aplikasinya.

Pada ukiran utama "manisan" ini berbentuk relief 3 dimensi yang dikerjakan dengan sangat detail, kemungkinan bertema salah satu kisah legendaris Sam Kok.

Ukiran yang selalu berbeda antara "manisan" yang satu dengan lainnya, sehingga setiap "manisan" seperti ini tampil eksklusif dan personal.

Ornamen manisan Chanab ini memiliki motif yang khas, menggunakan material tradisional dan metode pertukangan (craftmanship), pengaruh budaya Tionghoa.

Namun jika merunut sejarahnya, koleksi ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda. Kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat Tionghoa Peranakan masa lampau. Eksotis ! SOLD OUT

Thonet Bentwood Chair

Author: Kedai Barang Antik / Labels: ,

Pada umumnya koleksi seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Elemen-elemen pola organik seperti tumbuhan bergaya vernakular Eropa yang banyak digunakan dalam perabotan kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1920-an.

Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa, nampak mewah dan mengundang decak kagum. 

Tapi bukan pula yang kondisi furniture utuh itu selalu replika. Sebab disimpan secara apik dan rapi oleh pemiliknya.

Bentukan lengkung konstruksi kursi terlihat glamour, dengan karya seni tinggi. 

Tampak beberapa bagian yang kusam karena termakan usia, tetapi kecantikannya tak pernah pudar. Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.

Sangat kokoh dan tidak berubah hingga sekarang, paper marking dan stamp "THONET" masih terasa jejak-jejaknya walau sudah tergerus arus zaman dan waktu. 

Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah perabot yang tidak berubah selama 100 tahun. Masih berfungsi baik dan sudah jarang dijumpai. Sehingga saya kini semakin berhati-hati menyimpannya.


Timeless Design Dari Michael Thonet

Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang.
Salah satunya pada desain perabotan interior dan arsitektur. Gaya kolonial, demikian kita sering menyebutnya.Gaya kolonial kental dengan pengaruh Eropa, tak heran kalau seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.

Michael Thonet (2 Juli 1796 – 3 Maret 1871) membuat furniture kursi yang memiliki terobosan atau inovasi baru di dunia furniture kala itu.

Ia mulai menemukan komposisi lem yang kuat untuk konstruksi join antar komponennya dan yang paling mengagumkan saat itu, ia sudah bisa membentuk lengkung dari material kayu dengan menggunakan uap panas.

Inovasi tersebut menghasilkan desain kursi yang belum pernah ada sebelumnya. Kursi yang sederhana, elegant, lebih ringan, nyaman, dan tahan lama.

Desain kursi buatan Michael Thonet tersebut memang istimewa dan menjadi desain yang mendunia hingga saat ini. Kelebihan lain dari desain kursi tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior.

Seperti kebanyakkan kursi masa itu yang digunakan di Belanda dan Perancis pada abad ke-17 hingga
abad ke-18 yang terbuat dari kayu Walnut dan biasanya bersandarkan dan dudukan anyaman rotan.

Kayu Walnut sulit ditemukan dan harganya sangat mahal dan diolah dengan cara pemanasan dan pembentukan, disebut dengan teknik "bentwood" bentuknya yang elegan, telah membawa pengaruh dan kesan khusus bagi para pemakai kursi-kursi tersebut.

Kayu Walnut yang bisa memberikan nilai estetika tinggi. Jika anda cermati kursi kayu solid melengkung dan teknik sambungan knock down material berharga dan eksotik sehingga mebel ini sangat mahal dan hanya dimiliki orang kaya. Tertarik memilikinya ? SOLD OUT

Chinese Indonesian Heritage

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Pada umumnya papan liyan China Peranakan seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Papan liyan kuno yang mempunyai ukuran P.111 cm dan L.54 cm ini punya standart kualitas sendiri. Nuansa nostalgia China Peranakan pun terasa begitu kuat.

Nuansa China Peranakan sangat terasa dari segi bentuk pahatan, ornamen dekoratif yang masih dibiarkan seperti aslinya.Pembuatannya secara konvensional, tidak pabrikan tapi satu persatu. 

Dekorasi profil semuanya dilakukan dengan memahat langsung pada selembar permukaan bidang kayu jati bukan berupa tempelan. Bagi anda yang tidak terlalu memikirkan makna sebuah syair filosofis Tionghoa, memajang papan liyan bisa mempercantik tampilan ruangan. 

Nampak tatahan ukir huruf yang diterakan, sebagai garansi dari kehalusan dengan kesempurnaan pengerjaan.

Kayu tua 1 lembar memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas. Nyatanya material papan kayu ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.


Papan Liyan Antik: Eksotika Budaya Tionghoa...

Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa masa kini adalah kepanjangan tangan dari komunitas Tionghoa pada masa lalu.

 Koleksi sepasang papan liyan masa lampau tersebut memang tak berasal dari China, namun yang pasti pernah dipergunakan oleh keluarga China dan berusia puluhan tahun.

Kaligrafi semuanya dilakukan dengan memahat langsung pada selembar permukaan bidang kayu jati bukan berupa tempelan. Tak sekedar pajangan, meski renta kaligrafi huruf " ZHI QIANG JIN " yang bermakna Kecerdasan (ZHI), Kuat (QIANG), dan Mencegah (JIN) ini menyimpan banyak cerita tentang gambaran Indonesia pada jamannya.

 Koleksi papan liyan masa lampau ini merupakan jejak sejarah yang merekam bentuk eksotisme nilai paduan gaya tradisional Tionghoa di bumi Nusantara pada masa kolonialisme. SOLD OUT

Kursi Van de Pol

Author: Kedai Barang Antik / Labels:




Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, meskipun kasar namun menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut, sehingga kita seakan terlempar ke awal abad ke 20.

Berburu kursi Indisch semacam ini bukanlah perkara mudah. Memiliki kualitas yang terjaga dalam originalitas, tak banyak yang tersisa dari desain kursi kuno ini.

Bentukan sandaran punggung kursi ini simetris dengan tepian yang dihiasi oleh ukiran tanaman. Kesempurnaan pengerjaan ornamen halus dan akurat diperlukan ketelitian tinggi.

Nyaman, dudukan jok dan busa yang empuk, kursi ini bila diduduki sangat nyaman. Jok dari material baru, dengan kualitas baik, pemasangan dikembalikan seperti aslinya.

Perabotan Hindia Belanda yang bergaya klasik eropa tidak hanya indah dipandang mata tetapi juga tak lekang oleh waktu

Tampilannya yang menarik dan tampak berumur menjadikannya barang collectible, karena sulit dicari.


Sebuah Jejak Perabotan "Landhuisen" ....


Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.
Mebel antik Van de Pol memiliki penggemar tersendiri. Bila anda salah satunya dan berkeinginan menghiasi rumah dengan mebel kuno yang melegenda, koleksi ini sangat layak untuk dilirik.


Mungkin, perabot kursi tua ini tak menarik bagi para sebagian orang yang biasanya mencitrakan sebuah perabotan modern kekinian namun, di mata kolektor perabot Dutch East Indies, gaya yang sering disebut " VAN DE POL " melekat dengan elegan di perabot tua ini menjadi magnet yang mempunyai pesona tersendiri.


Perabotan Indies ini, patut disyukuri karena masih terawat dengan baik dan utuh yang dapat menceritakan masa lalu. Mempunyai ukuran P.45 cm x L.46 cm x T.105 cm (43 cm persegi) sungguh warisan masa lampau yang berharga, yang dahulu sempat prominen dimasanya.

1 Syawal 1439 H

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Di hari yang suci ini, 
mari kita hapus semua sangka 
Untuk damai di hati



Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin 

Schrijtafel (Meja Tulis) Art Nouveau

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Jika melihat desain Schrijtafel (meja tulis) beserta kursi itu tampaknya barang sekitar dekade 1908 an. Berbahagialah jika anda masih menyimpan pernik langka ini.

Schrijtafel (meja tulis) ukuran P.91 cm x L.55 cm x T.109 cm (75 cm) kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya, niscaya tak ternilai harganya.

Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda yang banyak digunakan dalam perabotan kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1910-an. Sungguh suatu selera perabotan Indies yang penuh cita rasa. 

Ketelatenan menyimpan Schrijtafel (meja tulis) era Dutch East Indies ini, mempertemukan dengan “masa lalu” yang boleh jadi tak pernah kita lihat sebelumnya.

Tak heran tampak bekas-bekas pemakaian dan kerusakan-kerusakan yang wajar dan juga berfungsi sebagai pelengkap interior ruangan yang bersifat fungsional dan estetika

Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.

Menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan, memperkuat kesan Art Nouveau dan terlihat glamour. 

Meski bekas, kualitasnya masih sangat terjaga. Sungguh menarik dan mengundang decak kagum.

Laci menggunakan sisitem knock down atau sistem sambungan yang disebut dengan istilah buntut burung.

Identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim. Tampak jelas terlihat pembedaan gradasi yang timbul akibat efek iklim tropis yang berlangsung selama puluhan tahun.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut. Tekstur gradasi halus dan detail menjadi jaminan bagi karya seni dari masa lalu yang layak untuk dikoleksi.

Kunci pintu masih berfungsi sebagaimana mestinya, walau usianya tergolong renta. 

Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lebar dan besar, wujud yang terlihat selain kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume.

Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen "tali air" yang dikontraskan dengan garis lurus memiliki kadar craftmanship yang tinggi.

Secara kaitan sosial desain beberapa detail ornamen dapat dikatakan sebagai akulturasi budaya Tionghoa.  Ukuran kursi P.39 cm x L.45 cm x T.102 cm kita seolah diajak berkelana ke masa silam.

Selain ergonomis, demikian kecermatan dan ketelitian pengerjaan menunjang kenyamanan.


 Meja Tulis Semarangan : Membangkitkan Memori 100 Tahun Lalu...
Dalam kurun waktu 1905-1915, pemilihan perabotan rumah tangga meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.
Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya.

Schrijtafel tampil dalam pola dan motif yang khas. Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.

Nuansa Art Nouveau sangat terasa dari segi bentuk, ornamen dekoratif yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya. Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.

Saking diburunya, kini banyak beredar replika atau tiruannya. Ah, gampang dibedakan. Desain duplikat, biasanya keluar dari langgam gaya Indies. Pahatannya pun lebih kasar.

Saat ini hampir sudah tidak ada lagi yang memiliki koleksi Schrijtafel peninggalan kolonial yang masih tetap eksis tak tergulung jaman. Pendek kata, meja tulis Art Nouveau ini sulit dicari tandingannya. Langka dan prestisius. Mau ?? SOLD OUT