Kursi Meja Tamu Semarangan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Anda dapat mengaplikasikannya di tempat-tempat favorit, terlebih pada rumah tinggal anda. Suasana yang dihadirkan mampu mengobati stres setelah seharian bekerja.

Sebuah kursi tamu P.62 cm x L.55 cm (T.45,5 cm / 98 cm) tinggalan budaya yang sarat dengan nilai kearifan lokal.

Nuansa oriental sangat terasa dari segi bentuk, ornamen dekoratif yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.

Pengaruh Tionghoa dapat juga terlihat pada penggunaan motif dan ragam aplikasi warnanya.

Secara kaitan sosial gambar beberapa detail ornamen dapat dikatakan sebagai akulturasi budaya Tionghoa

Kecermatan dan ketelitian pengerjaan dengan pola desain seperti daun semanggi.

Selain ergonomis, sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan.

Nyatanya kursi ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.

Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan China. Meja berukuran T.76 cm x L.86 cm2 (marmer 68,5 cm2) Sungguh menarik dan mengundang decak kagum.

Menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan.

Identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim.

Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. 


Nostalgia Dengan Perabotan Bergaya Semarangan...

Perabotan Semarangan yang bergaya klasik eropa tidak hanya indah dipandang mata tetapi juga tak lekang oleh waktu.

Desain Semarangan perpaduan gaya Peranakan ini muncul pada era Nederlandsch Indie, dan diakrabi masyarakat kalangan atas atau nampaknya bertalian dengan tanda status sosial.

Orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan hingga pada detail-detailnya.
Pengaruh Eropa dan China dapat juga terlihat pada desain kursi bergaya Indisch ini.

Pertemuan antara esensi China dengan detail-detail Eropa ini telah menghadirkan pemahaman akan ekspresi klasik budaya Indies di masa itu.

Tampilannya yang menarik dan tampak berumur menjadikannya barang collectible, karena sulit dicari. Menghadirkan sentuhan oriental yang eksotis dalam tatanan ruang-ruang di rumah anda. Berminat ??







Kursi Goyang Hindia Belanda

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Perabot kursi goyang ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya nampaknya belum mau dipensiunkan.

Jika decermati, tekstur dan kerapian pengerjaan yang dihasilkan sangat luar biasa.

Tapi bukan pula yang kondisi furniture utuh itu selalu replika. Sebab disimpan secara apik dan rapi oleh pemiliknya.

Dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas yang tampaknya sudah ada pada tahun 1915-an.

Pola geometris atau bunga ornamen sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa, nampak mewah dan mengundang decak kagum.

Gaya oriental juga penuh dengan makna dan simbolisasi. Ini membuatnya semakin menarik.

Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah. Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya karena membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Ornamen kursi goyang ini memiliki motif yang khas, pengaruh budaya Tionghoa ini terpancar anggun oleh keindahan dan orisinalitas.

Dalam foto tersebut kita bisa melihat lagi bagaimana situasi masa lalu. Dalam kurun waktu 1905-1915, pemilihan perabotan rumah tangga meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.


Sebuah Jejak Kolonialisme...
 

Elemen antik nuansa khas Indo-Eropa atau era kolonial memiliki sentuhan cita rasa seni menjadi daya tarik dari masa ke masa.

Tidak sekedar pajangan, kursi goyang kuno ini masih cantik untuk ditampilkan, bahkan memberi nilai estetika pada ruangan. Sayangnya, keberadaan elemen bernuansa masa lampau itu kini terbilang langka dan susah ditemukan.

Pada masa Hindia Belanda, China Peranakan telah mewujudkan satu budaya yang unik dengan mengkekalkan banyak tradisi China, dengan mengikut budaya lokal dan juga koloni kebudayaan Eurasia (Eropa Asia)

Penyesuaian dan resapan budaya mereka terhadap suasana sosio budaya di era Dutch East Indies, yaitu melalui perkawinan campur yang berlaku di antara kaum-kaum China dan pribumi pada masa itu.

Sebelum pertengahan kedua abad ke 20, generasi China Peranakan menyesuaikan diri dengan kehidupan Indies, lebih berbau tradisi Eropa mulai muncul.

Fenomena ini kemudian melahirkan golongan priayi baru, yang memberikan tempat kepada semua kelompok masyarakat, di bawah pemerintah Hindia Belanda.




Meja Marmer Indische

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Namun jika merunut sejarahnya, koleksi meja marmer jumbo dengan ukuran P.124 cm x L.94 cm x T.75 cm ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda.

Daerah-daerah yang pernah makmur pada jaman kolonial Belanda atau yang menjadi pusat kependudukan di jaman VOC. Banyak didapatkan meja marmer semacam ini walau semuanya sering tidak lengkap atau rusak. 

Secara keseluruhan bentuk bidang konstruksi geometris meja, lengkungan kaki meja dan ukiran motif organik yang cukup rumit ini sangat kental nuansa kolonial.

Dengan penempatan yang pas, meja marmer ini bisa tampil prima di tengah ruangan anda. Mempunyai keindahan yang tidak lekang oleh perkembangan jaman...

Model ini juga terlihat indah untuk penempatan ruang dengan desain formal, kasual, tradisional, ataupun modern.

Penopang meja diameter 22 cm bercorak floral langgam kolonial ini cenderung bergaya Indische Empire Stijl namun kaya akan unsur dekoratif. 

Meja mempunyai struktur permukaan datar dan dasar yang terdiri dari 3 kaki bergaya Perancis abad pertengahan sebagai penopangnya.

Alas meja menggunakan marmer merupakan pengaruh dari gaya The Dutch Colonial.

Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lebar dan besar, wujud yang terlihat selain kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume.

Perabot Asisten Residen Masa Lalu...

Jika dilihat secara keseluruhan, gaya desain neo klasik Eropa sangat jauh dari kesan simple. Semuanya serba besar, detail, ribet dan mahal. Tapi kenyataannya, hingga kini gaya Eropa tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain.

Dilihat dari segi visual, terdapat kesesuaian dengan model mebel di Perancis pada jaman Louis XIV.
Mengingat Perancis pernah berkuasa di Jawa dan Daendels sebagai seorang Gubernur Jenderal yang mewakili pemerintahan Napoleon di Jawa.

Prinsip dasar model Perancis adalah merubah bentuk kaku dan garis lurus, menjadi bentuk yang lembut atau luwes. Gayanya yang rumit, namun terkadang menyimpan makna tinggi bagi setiap orang yang melihatnya.

Sudah sepantasnya kita harus menjaga dan melestarikan elemen-elemen dari masa lalu. Jika tidak ada kepedulian tidak mustahil perabotan kuno peninggalan Hindia Belanda kelak hanya akan jadi sekedar cerita orang tua kepada anak cucunya.





Tegel Warna Art Nouveau

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Tegel Ubin Klasik : Dari Bekas Jadi Berkelas...

Ubin antik eks bongkaran salah satu bangunan hotel kolonial yang memilih materialnya dengan selektif dan berkelas. Bahkan sampai detail dengan bentuk-bentuk geometris yang dapat disusun membentuk aksen dekoratif. 

Sayang berburu tegel semacam itu, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari ubin kuno ini. Stock tersedia untuk ukuran ruangan 4 x 5 (20 meter persegi) atau sekitar 500 pcs tegel.

Ornamen dan motif di permukaan tegel, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni. Gradasi warnanya berbeda dengan warna mengkilap pada ubin keramik modern. Selain itu, struktur tegel pun lebih kuat dan tak mudah pecah. Mau ?? SOLD OUT 

Van der Pol Bosscha

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Gaya Desain Kolonial Menarik Di Ruang Tamu...

Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas pada tahun 1910-an.

Koleksi perabotan rumah tangga golongan menengah di beberapa kota besar yang pada waktu itu jumlahnya sangat terbatas. Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Hingga kini, perabotan kuno semacam ini semakin menyusut drastis.

Kursi dan meja antik ini memiliki gaya desain Batavia pada abad ke 18 dimana gaya desain Batavia ini merupakan original dari Eropa, jadi bisa disebut sebagai gaya desain kolonial yang masuk ke Indonesia.

Struktur kayu kursi dan meja yang berukuran besar, disesuaikan dengan iklim dan tinggi bangunan di Hindia Belanda pada waktu itu. Konon, perabotan semacam ini menjadi penanda kelas sosial pada masyarakat kolonial yang dibeda-bedakan berdasarkan ras dan status sosial.

Kursi baca bergaya Van der Pol Bosscha yang mempunyai ukuran 63 cm x 57 cm dan T.48 cm/110 cm, sedangkan meja berukuran T.58 cm x 75 cm2 (granit 64 cm2) ini tertidur hampir 100 tahun.

Salah satu yang paling jadi primadona kolektor, bernilai sejarah dan terbatas jumlahnya. Tertarik memilikinya ?  SOLD OUT

Tegel Antik Landhuis

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Nostalgia Dengan Tegel Kuno...

Kesan antik diperkuat dengan penggunaan ubin motif kuno yang membingkai area interior rumah hunian anda. Lihat saja ubin atau tegel kuno (klasik) ini. Kekhasan tegel yang memiliki permainan warna dan motif tersebut kini semakin banyak dicari orang saat ingin membangun ataupun merenovasi rumah.

Namun, banyak orang meyakini bahwa mengaplikasikan tegel dengan motif kuno seperti bunga, daun dan batik ini bisa menghadirkan kesan mewah tersendiri dalam hunian mereka.

Tegel motif sulur bergaya Art Nouveau ini merupakan barang yang sulit didapat, lebih unggul kualitas bahkan belum ada produk repro yang sejenis dibuat.

Sayang berburu tegel semacam itu, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari ubin kuno ini.
Stock tersedia untuk ukuran ruangan 6 x 5 (30 meter persegi) atau sekitar 750 pcs tegel.

Nostalgia seperti ini yang kini menyedot perhatian banyak orang sehingga mereka ingin membelinya bahkan ada yang memburutegel kuno bekas yang berasal dari bongkaran rumah-rumah kuno.

Material tegel orisinil lawasan lebih sejuk saat diinjak dan memberi kesan antik pada bangunan. Bahkan tegel antik buatan tahun 1910-an ini masih kokoh, memiliki pori-pori sehingga tak mudah pecah saat terkena panas. Seru bukan?