Kapstok Indische

Author: Kedai Barang Antik / Labels: ,

Dilihat dari fungsinya, semua kapstok pajang pada dasarnya adalah sama, yaitu sebagai media untuk menyimpan dan memajang barang-barang yang mempunyai kepantasan nilai untuk dipertunjukkan.

Kapstok dinding era Dutch East Indies ini memperkuat gaya sebuah interior, membentuk ciri khas, serta menciptakan sense of space ketika ada tamu yang memasuki rumah.

Pengaruh produk budaya Indo-Eropa mencakup aspek arsitektur interior rumah tinggal, jejak akulturasi dan hibrida itu masih bisa dilihat pada desain dan pola rancangan berbagai perabotan dalam kebutuhan sehari-hari.

Bentuk konstruksi rak pada kapstok ini berciri khas Indische atau disebut gaya Indo-Eropa. Menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi.

Bentukan lengkung struktur kayu terlihat glamour, simetris dengan kaca warna yang masih dibiarkan apa adanya.

Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya. Bahwa semua elemen pembentuk struktur kayu merupakan perwujudan gaya kolonial Belanda.

Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lebar dan besar, menunjukkan imajinasi popular kelas elit kolonial. Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.

Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. 

Dekorasi interior perabotan kolonial ini mengingatkan akan kamar seorang nonik Belanda pada masa lampau. Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.

Perabotan antik yang bernuansa zaman kolonial Belanda. Menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi. Model ini juga terlihat indah untuk penempatan ruang dengan desain formal, kasual, tradisional, ataupun modern.


Kapstok Tua ala Tuan dan Nyonya Belanda....

Karya seni perabotan furniture masa lampau memang selalu indah untuk dinikmati, mencerminkan aspek sejarah dan romantik. Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Sayangnya berburu kapstok semacam ini, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari kapstok kuno bergaya Indische ini.

Mempunyai ukuran P.66 cm x L.20 cm x T.78,5 cm ini sangat mempengaruhi suasana rumah, juga memiliki kekhasan sendiri sekaligus memperlihatkan estetika.

Kapstok jumbo peninggalan era Hindia Belanda ini pun masih tampak kokoh dan mantap, bahkan tampilannya sangat menggoda mata.

Dengan beberapa pengaturan sudut yang tepat, Anda akan mendapatkan sebuah penempatan pajangan yang dapat dinikmati oleh setiap mata yang memandang. Mau ???

Thonet Bentwood Chair

Author: Kedai Barang Antik / Labels: ,

Pada umumnya koleksi seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Biasanya dimiliki oleh pejabat pemerintahan atau Asisten Residen pada masa kolonial. Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Meski bekas, kualitasnya masih sangat terjaga. Sungguh menarik dan mengundang decak kagum. Tak ada yang keberatan, tak ada pula yang menduga bahwa di kemudian hari, kursi Thonet ini melegenda.

Elemen-elemen pola organik seperti tumbuhan bergaya vernakular Eropa yang banyak digunakan dalam perabotan kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1920-an.

Bentukan lengkung konstruksi kursi terlihat glamour, dengan karya seni tinggi. 

Tampak beberapa bagian yang kusam karena termakan usia, tetapi kecantikannya tak pernah pudar. Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.

Perabotan antik yang bernuansa zaman kolonial era Hindia Belanda, menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi.

Nyatanya parts material ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad. Sungguh mengundang decak kagum. 

Sangat kokoh dan tidak berubah hingga sekarang, paper marking dan stamp "THONET - 4" masih terasa jejak-jejaknya walau sudah tergerus arus zaman dan waktu. 


Timeless Design Dari Michael Thonet

Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang. Salah satunya pada desain perabotan interior dan arsitektur. Gaya kolonial, demikian kita sering menyebutnya. Gaya kolonial kental dengan pengaruh Eropa, tak heran kalau seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.

Michael Thonet (2 Juli 1796 – 3 Maret 1871) membuat furniture kursi yang memiliki terobosan atau inovasi baru di dunia furniture kala itu. Ia mulai menemukan komposisi lem yang kuat untuk konstruksi join antar komponennya dan yang paling mengagumkan saat itu, ia sudah bisa membentuk lengkung dari material kayu dengan menggunakan uap panas.

Inovasi tersebut menghasilkan desain kursi yang belum pernah ada sebelumnya. Kursi yang sederhana, elegant, lebih ringan, nyaman, dan tahan lama.

Desain kursi buatan Michael Thonet tersebut memang istimewa dan menjadi desain yang mendunia hingga saat ini. Kelebihan lain dari desain kursi tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior.

Seperti kebanyakkan kursi masa itu yang digunakan di Belanda dan Perancis pada abad ke-17 hingga
abad ke-18 yang terbuat dari kayu Walnut dan biasanya bersandarkan dan dudukan anyaman rotan.

Kayu Walnut sulit ditemukan dan harganya sangat mahal dan diolah dengan cara pemanasan dan pembentukan, disebut dengan teknik "bentwood"bentuknya yang elegan, telah membawa pengaruh dan kesan khusus bagi para pemakai kursi-kursi tersebut.

Kayu Walnut yang bisa memberikan nilai estetika tinggi. Jika anda cermati kursi kayu solid melengkung dan teknik sambungan knock down material berharga dan eksotik sehingga mebel ini sangat mahal dan hanya dimiliki orang kaya. Tertarik memilikinya ?

Antique Cabinet Trunk

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Pertemuan antara esensi Tionghoa dengan detail-detail Eropa ini telah menghadirkan pemahaman akan ekspresi klasik budaya Indies di masa itu.

Perabotan antik yang bernuansa zaman kolonial Belanda. Menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi.

Sungguh suatu selera perabotan peninggalan Hindia Belanda yang penuh cita rasa, seolah bisa memutar waktu 100 tahun yang lampau.

Tampilannya yang menarik dan tampak berumur menjadikannya barang collectible, karena sulit dicari.  Benar-benar bisa membuat anda merasa seolah berada di zaman kolonial.

Nyatanya material besi ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.
Sungguh mengundang decak kagum. 


Secara kaitan sosial desain beberapa detail ornamen dapat dikatakan sebagai akulturasi budaya Tionghoa. Tampak konstruksi ekor burung (dove tail joint) membantu menjaga kestabilan kayu.

Selain kesempurnaan bentuk dan proporsi juga memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu dan cuaca tropis Hindia Belanda.




Kayu tua memiliki patina indah dan terlihat benar-benar menakjubkan dalam originalitas.

Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.

Tidak hanya memukau secara fisik dan visual semata, namun menjadi refleksi zaman yang masih tampak indah hingga sekarang. 

Bentuk konstruksi kaki penopang berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa.

Dengan beberapa pengaturan sudut yang tepat, peti antik ini dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda.


Peti Tua ala Tuan dan Nyonya Belanda....

Perabotan lama selalu mengundang perhatian karena bentuknya yang unik. Namun jika merunut sejarahnya, koleksi ini muncul saat nusantara sedang dalam masa penjajahan kolonial Belanda.

Koleksi meja nakas era Dutch East Indies berukuran P.75 cm x L.44 cm x T.110 cm ini memperkuat gaya sebuah interior, membentuk ciri khas, serta menciptakan sense of space ketika ada tamu yang memasuki rumah.

Apresiasi yang tinggi pada upaya pemeliharaan yang amat rapi, sehingga perabotan tersebut masih sangat kokoh dan dapat dipakai hingga saat ini. Kelebihan lain dari peti kabinet antik tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior. Mau ??

Kaca Patri Indies Landhuis

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Paduan warna-warna indah memberi kesan lebih dramatis dengan efek cahaya, baik itu dari cahaya alam (matahari) maupun dari sinar lampu.

Keindahan unik dari seni kaca kuno ini bisa menambah aksen dan menghidupkan suasana ruang interior anda.

Jejak-jejak kaca patri arsitektur bangunan kolonial karakteristiknya yang kuat sebagai langgam yang mudah dikenal.

Pengaruh dari gaya desain Art Nouveau yang berkembang pada periode tahun 1900 sampai 1920-an.

Penggunaan ventilasi stained glass berfungsi mendapatkan pencahayaan yang alami kedalam ruang.

Mencoba mengangkat kembali unsur-unsur antik dari masa silam dan memancarkan keindahan abadi.

Dengan penempatan yang pas, motif dan desain yang klasik menimbulkan suasana nyaman dan romantik. 


Pesona Stained Glass dan Kolonialisme...

Orang-orang Eropa yang menetap di berbagai kota di Indonesia merasakan kehidupan yang nyaman di negara tropis yang hangat, karena sebelumnya mereka tinggal di negara sub-tropik yang kekurangan cahanya matahari.

Bahkan mereka menyebut Indonesia sebagai Mooi Indie atau Hindia yang cantik, yang nyaman sebagai tempat tinggal. Paduan cahaya, relief dan ukurannya yang besar mau tak mau memancarkan aristocratic dalam ornamen Art Nouveau.

Kaca patri warisan Arsitektural Indies ini mempunyai ukuran P.41,5 cm x L.41,5 cm ini menjadi daya pikat tersendiri memberi gairah baru pada suasana tempo doeloe. Mau ???

Meja Medallion Hindia Belanda

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Dalam kurun waktu 1905-1915, pemilihan perabotan rumah tangga meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.

Dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas yang tampaknya sudah ada pada tahun 1915-an.

Meja marmer Medallion peninggalan Dutch East Indies ini sudah jarang ditemui dan tak lebih dari hitungan jari. Pesonanya tetap memikat, masih cantik untuk ditampilkan dan menjadi "point of interest" di tengah-tengah ruang.

Struktur penopang kayu jati bidang lebar (diameter 23 cm), lebih kuat dan tak mudah pecah. Pengaruh Eropa dan akulturasi Jawa dapat juga terlihat pada penggunaan corak tekstur ukir Majapahit dalam ornamentasi, memiliki banyak detail, dan kaya akan unsur dekoratif.

Perabotan Indies ini, patut disyukuri karena marmer dengan diameter 115 cm ini masih berfungsi dengan baik dan utuh yang dapat menceritakan masa lalu.

Bagian dasar meja klasik ini memiliki tiga kaki penopang untuk menjamin stabilitas dan kuat untuk menahan beban marmer yang cukup berat. Nyatanya hingga kini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.


Meja Marmer Medallion : Jejak Kemegahan Furniture Masa Lalu...

Setiap kali memandang perabotan masa lalu selalu terasa ada pesona yang memancar. Bukan sekadar keindahan perpaduan dan komposisi ragam hias serta warna yang menarik diamati, tetapi juga semangat zaman yang dipancarkan oleh koleksi barang tersebut.

Sehingga sampai kini pun kondisinya tidak berubah, sungguh memikat bagi siapa saja yang melihatnya. Sangat kokoh dan tidak berubah hingga sekarang, masih terasa jejak-jejaknya walau sudah tergerus arus zaman dan waktu.

Kualitas yang terjaga dalam originalitas, bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Selektif dan berkelas, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni. Mencerminkan simbol kekuasaan, status sosial, gaya hidup, cara berpikir masyarakat tempo doeloe dan kebesaran penguasa saat itu.

Meja Medallion ini bukan hanya indah, tetapi juga memberi pemahaman tentang sebuah peninggalan sejarah Indonesia pada masa Hindia Belanda.

Inilah gambaran peninggalan perabot furniture sejarah kolonial di Indonesia yang bertalian dengan tanda status sosial tertentu. Mau ??? SOLD OUT 

Kursi Semarangan Indische

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Berburu kursi Indische semacam ini, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari desain kursi kuno ini. Bentuknya yang elegan, telah membawa pengaruh dan kesan khusus bagi para pemakai kursi-kursi tersebut.

Jika dilihat semua seperti tak berubah, walau usianya hampir 100 tahun lalu. Dari segi tampilan, pernik perabotan kursi masa Hindia Belanda kental dengan desain yang unik dan berkarakter. 

Selain ergonomis, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.

Keluwesan pola lengkung asimetris bagian kakinya berbentuk kaki binatang dan yang merupakan karakteristik perabot Eropa.

Tekstur material anyaman rotan dipertahankan original apa adanya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.

Selain ergonomis, sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan. Meski kursi tua, tapi kualitasnya masih sangat terjaga.

Dengan ciri adanya motif organik bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. 


Merekam Jejak Kursi Semarangan...

Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang. Perabotan kuno masa Kolonial di Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi juga semakin menyusut drastis.

Kursi peninggalan Indies yang mempunyai ukuran T.98 cm (40 cm) dan P.61 cm x L.61 cm (48 cm) ini punya standart kualitas sendiri. Nuansa nostalgia pun terasa begitu kuat.

Aliran Art Nouveau ini menghilang pelan-pelan di sekitar tahun 1910. Unsur-unsur dekorasi dari perabotan tempo dulu masih relevan diterapkan di jaman sekarang. Memberi nilai estetika pada ruangan. Anda akan merasakan nuansa masa lalu yang unik di dalamnya.

Sambil duduk di kursi peninggalan masa eksotik Hindia Belanda bergaya Art Nouveau, kroketjes dan teh rempah hangat mengepul pun jadi teman yang pas. Tertarik memilikinya ??