Thee Kastje (c.1920's)

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Meski berusia hampir lebih dari 100 tahun, kualitasnya masih sangat terjaga. Tekstur material dipertahankan seperti aslinya masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad. Sungguh mengundang decak kagum. 


Perabotan kuno masa kolonial di Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi juga semakin menyusut drastis. 
Patut disyukuri karena masih berfungsi dengan baik dan utuh yang dapat menceritakan masa lalu.


Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa ini mengutamakan kesederhanan tanpa banyak ornamen dekoratif.


Bentuk fungsional yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi, sebagai akibat dari prinsip bentuk mengikuti fungsi (form follows function) pada masa itu.


Perpaduan sisi praktis yang ditampilkan melalui pembagian 4 area penyimpanan pada dalam lemari.


Dilihat dari corak teksturnya cat yang terkelupas dan ornamen yang tertutup kerak menggambarkan betapa lamanya benda tersebut. 


Gaya desain pada tarikan pintu lemari merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu. Handle tampak masih kokoh dan mantap, sehingga penampilannya lebih kontemporer. 


Dengan 4 bentuk kaki penopang yang kokoh, dikontraskan dengan garis lurus memiliki kadar craftmanship yang tinggi.


Kayu jati tua berkualitas bagus memiliki permukaan yang sangat dekoratif. Tekstur dan serat kayunya terbentuk dengan sempurna dan indah.


Meja pada masa Nederlandsche Indies ini masih menyisakan kemegahan tempo dulu yang ramah menyambut tamu.
Suatu cerminan keterbukaan yang melahirkan karakter bangsa yang toleran.


Dalam foto tersebut kita bisa melihat lagi bagaimana situasi masa lalu. Dapat disimpulkan bahwa koleksi Thee Kastje ini memang dimiliki oleh komunitas Societeit. Mereka bersosialita sebagai himpunan elit akibat pertemanan sembari menggelar acara minum teh. Anda akan merasa seperti di sebuah komunitas Societeit di era Hindia Belanda.


Societeit Thee Kastje : Membangkitkan Memori 100 Tahun Lalu...

Koleksi " Thee Kastje " ini salah satu dari sedikit yang tersisa dari kediaman " landhuisen " di Hindia Belanda tahun awal 1920-an dan terpelihara dengan baik.

Unik, indah, " shopisticated " dan praktis, begitulah tampilan keseluruhan dari lemari antik ini.

Tampak beberapa bagian yang kusam karena termakan usia, tetapi kecantikannya tak pernah pudar.

Koleksi tempat lemari meja teh semacam ini umumnya menghias bangunan rumah peristirahatan, yang lazim disebut landhuis dengan patron Belanda.

Perabot rumah tangga yang disukai para nyonyah atau meneer di kota-kota besar di Hindia Belanda ini bersifat movable, yang dapat dipindah dan geser.

Mempunyai ukuran P.72 cm x L.46 cm x T.78 cm ini hingga kini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad. Mau ??? SOLD OUT

Kursi Panjang Indische 3 Seat

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Pada umumnya koleksi kursi seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Selain kesempurnaan bentuk dan proporsi juga menambah kesan dramatis sebagai elemen estetis yang mendukung suasana kolonial masa lampau.

Dari segi tampilan, perabotan furniture masa Hindia Belanda kental dengan desain yang unik dan berkarakter.

Sampai kini pun kondisinya tidak berubah, sungguh memikat bagi siapa saja yang melihatnya. Just marvelous design. 

Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda menjadi gaya bentuk yang tak lekang dimakan waktu.

Selain ergonomis, sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan. Meski kursi tua, tapi kualitasnya masih sangat terjaga.

Memanfaatkan kualitas kayu jati solid, wujud yang terlihat selain kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume.

Pola desain bidang lengkung pada sandaran tangan kursi merupakan sebuah sintesis dari budaya Timur dan Eropa.

Tekstur dan kerapian pengerjaan memiliki kadar craftmanship yang tinggi, selain ergonomis, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.


Menyusuri Jejak Kemegahan Perabotan Indische...

Di masa itu diterapkan tata cara baru yaitu mengharuskan pihak keraton menyediakan perlengkapan permebelan bagi Residen atau para pembesar Belanda yang bertamu.

Bukti yang mendukung kemungkinan tersebut adalah adanya jenis mebel yang menurut sebutan di Jawa dinamakan kursi "Kompeni".

Berburu kursi Indisch 3 Seater semacam ini, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari desain kursi kuno ini.

Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya, sebab membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Kursi panjang era bergaya vernakular Belanda berukuran P.135 cm x L.53 cm x T.123 cm (47 cm) ini memperkuat gaya sebuah interior, membentuk ciri khas, serta menciptakan sense of space ketika ada tamu yang memasuki rumah. SOLD OUT

Pronkast de Batikkerij (Vorstenlanden)

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Ciri khas perabotan Vorstenlanden adalah perhatian terhadap detail. Furniture yang dipakai komunitas priyayi cukup variatif. Rata-rata memiliki motif ukir di beberapa bagian.

Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.


Dilihat dari fungsinya, 2 baris ruang sebagai media untuk menyimpan barang. Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.

Kunci berfungsi dengan baik. Jika dilihat semua seperti tak berubah, original dan terawat baik.


Tampak jelas terlihat pembedaan gradasi yang timbul akibat efek iklim tropis yang berlangsung selama puluhan tahun.

Dekorasi ornamen motif ukiran tersebut menjadi karakteristik tersendiri untuk komunitas elit Vorstenlanden.


Gaya Perabot Vorstenlanden

Sebuah lemari pajang (prongkas) jejak warisan kemewahan priyayi keraton Jawa. Terkabar perabot ini juga disebut Pronkast de Batikkerij.

Perabotan Indies ini patut disyukuri karena masih berfungsi dengan baik dan utuh yang dapat menceritakan masa lalu.

Lemari pronkas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial, mempunyai ukuran T.150 cm x P.75 cm x L.55 cm.

Melalui koleksi lemari ini kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat penguasa Vorstenlanden masa lampau. Eksotis ! SOLD OUT

Kursi Kompeni (Oma Opa-de Stoel) 1910's

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Furniture yang ada pada masa lampau juga dipengaruhi oleh arsitektur yang berkembang saat itu yaitu The Empire Style.

Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya.

Koleksi kursi kompeni ini memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa sentris masa lampau.

Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lengkung yang lebar, hal itu dapat dilihat pada alas duduk dan sandaran tangan kursi. 

Jika dicermati desain dan tekstur dengan ukiran ornamen yang ditonjolkan merupakan ciri gaya Indies yang berkembang di masa kolonial Hindia Belanda sekitar dekade 1910 an.

Nuansa Indo-Eropa sangat terasa dari segi bentuk, ornamen dekoratif yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.

Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda menjadi gaya bentuk yang tak lekang dimakan waktu. 

Karakternya dianggap sempurna, maturity, bertahan lama dan klasik.

Walau kursi ini dibuat lebih dari 90 tahun yang lampau dengan paduan cita rasa Eropa, namun kursi ini masih sangat nyaman dipakai hingga masa kini.

Sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.


Merekam Sejarah Lewat Koleksi Perabot Feodal....


Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda yang banyak digunakan dalam perabotan kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1910-an.

Kursi dengan ukiran dengan ragam hias corak Majapahit dan paduan ragam hias Eropa di tambah dengan penggunaan rotan untuk sandaran punggung, dan alas sarana duduk.

Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa. Sungguh menarik dan mengundang decak kagum.

Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, kursi ini selalu mengkilap.

Kehadiran koleksi perabotan masa Dutch East Indies ini bisa memeriahkan tatanan ruang tamu anda.

Kelebihan lain dari sepasang kursi yang mempunyai ukuran P.67 cm (63 cm) x L.79 cm (56 cm) x T.98 cm (39 cm) tersebut bisa masuk dalam segala style desain interior.

Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya. Sungguh suatu selera perabotan Indies yang penuh cita rasa. Mau ?? SOLD OUT

Meja Art Nouveau Studio Foto

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Dalam perjalanan waktu gaya perabotan Semarangan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Jika melihat kondisinya, koleksi ini tampaknya barang warisan zaman turun temurun dan belum mau dipensiunkan.

Simpel dan kuat desainnya, dapat dilihat dari penataan motif garis "tali air" yang seimbang.


Nuansa Art Nouveau sangat terasa dari segi bentuk yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.


Originalitas menjadi jaminan bagi karya seni dari masa lalu yang layak untuk dikoleksi.


Menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan, memperkuat kesan Art Nouveau dan terlihat glamour. 

Dalam foto tersebut kita bisa melihat lagi bagaimana situasi masa lalu, keterlibatan etnis Peranakan ini adalah sebagai obyek terpotret, sebagai bagian dari properti studio foto komersial era kolonial. 


Meja Studio Foto : Membangkitkan Memori 100 Tahun Lalu...

Gaya Art Nouveau atau biasa disebut Semarangan tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain.

Kursi studio foto bergaya Art Nouveau yang mempunyai ukuran P.65 cm x L.42 cm x T.78 cm  ini tertidur hampir puluhan tahun. Salah satu yang paling jadi primadona kolektor, bernilai sejarah dan terbatas jumlahnya.

Pola Art Nouveau menggoreskan garis pola rancangan yang mengalir alami dan harmonis. Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya. SOLD OUT

Renaissance Goat Head Chair

Author: Kedai Barang Antik / Labels: ,

Selain ergonomis, sudut kemiringan lengkung kursi menunjang kenyamanan. Sehingga berkesan bersahaja, masif dan berat.

Berburu kursi klasik semacam ini, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari desain kuno ini, bernilai sejarah dan terbatas jumlahnya.

Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.



Sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.


Sampai kini pun kondisinya tidak berubah, sungguh memikat bagi siapa saja yang melihatnya. Just marvelous design. 

Bentuk konstruksi kaki penopang berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial.

Konstruksi lengkung kayu solid, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni.

Dalam foto tersebut kita bisa melihat lagi bagaimana situasi masa lalu. Dalam kurun waktu 1905-1915, pemilihan perabotan rumah tangga meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.


Merekam Jejak Kursi Studio Foto Komersil ...

Furniture yang ada pada masa lampau juga dipengaruhi oleh arsitektur yang berkembang saat itu yaitu Renaissance Style.

Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya atau bertalian dengan tanda status sosial.

Meski dianggap kuno dan ketinggalan zaman, namun pesona kursi ini tetap memikat. 

Gaya desainnya merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu yang bisa diasosiasikan juga dengan simbol kemewahan pada jaman sekarang. Mau ??? SOLD OUT