Peranakan Console Table

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Mampu bertahan hingga ratusan tahun, maka koleksi ini bisa dikatakan mengungkap perjalanan kultural yang bersifat romantis nostalgis.


Jenis perabot Tionghoa periode awal tahun 1910-an ini menjadi langka di tingkat yang mengkhawatirkan, hampir mustahil untuk menemukan dalam kondisi baik dan utuh seperti ini.


Dilihat dari fungsinya, 3 laci sebagai media untuk menyimpan barang. Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.

Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, meja ini selalu mengkilap.

Sampai kini pun warnanya tidak berubah. Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya karena membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.

Dekorasi ornamen motif ukiran tersebut menjadi karakteristik tersendiri untuk komunitas elit Peranakan.

Ciri khas perabotan Peranakan adalah perhatian terhadap detail. Furniture yang dipakai komunitas Peranakan Tionghoa cukup variatif. Rata-rata memiliki motif ukir di beberapa bagian.


Meja Konsol Peranakan : Kilas balik jejak perabotan Peranakan ....

Budaya China Peranakan atau yang lebih dikenal sebagai Straits Chinese adalah produk asimilasi, akulturasi dan proses hibrida panjang selama berabad-abad antara budaya pendatang Tionghoa dari Tiongkok, penduduk setempat (pribumi) dan Belanda yang saat itu berkuasa di Nusantara.

Di Indonesia, koleksi benda budaya Peranakan yang sudah diidentifikasi jumlahnya cukup banyak.
Hanya saja, saya ingin menunjukkan jika 80 -100 tahun silam seperti itulah bentuk benda-benda budaya Peranakan di Indonesia.

Peranakan Console Table ini berukuran P.120 cm x L.60 cm x T.90 cm sungguh warisan masa lampau yang berharga, Koleksi ini salah satu dari sedikit yang tersisa dari kediaman "landhuisen" di Hindia Belanda tahun 1910 an dan terpelihara dengan baik.

Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.

Benda-benda warisan tradisi Tionghoa masa lampau itu tak bernyawa, tapi menyimpan kisah sejarah panjang terentang.

Saking diburunya, kini banyak beredar replika atau tiruannya. Ah, gampang dibedakan. Desain duplikat, biasanya keluar dari langgam gaya Peranakan. Pahatannya pun lebih kasar.
SOLD OUT

Kursi Studio Foto Batavia

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Kursi dengan sandaran setengah melingkar atau U-form berciri khas Indisch seperti ini, perlahan mulai jarang ditemui.

Kelangkaan, orisinilitas dan usianya yang lebih dari 100 tahun ini membuatnya semakin menarik.

Sampai kini pun kondisinya tidak berubah, sungguh memikat bagi siapa saja yang melihatnya. Just marvelous design. 

Konstruksi lengkung kayu solid, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni.

Bentuk konstruksi penopang berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial.

Untuk menciptakan keawetan, nampaknya konstruksi material furniture dibuat dari kayu solid.


Sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.

Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya.


Merekam Jejak Kursi Studio Foto Komersil ...

Koleksi kursi studio foto bergaya Batavia ini simpel dan kuat desainnya, banyak diterima oleh kalangan the have dan well-educated

Nyatanya kursi ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad. Salah satu dari sedikit yang tersisa dan terpelihara dengan baik.

Perabotan kuno masa kolonial di Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi juga semakin menyusut drastis.

Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya

Perabotan kolonial kota Batavia (Jakarta) merupakan sumber yang tak ada habis-habisnya untuk ditulis dan dikaji. 

Banyak perabotan gaya desain Batavia tercecer yang belum diungkapkan. Terutama dalam kurun waktu tertentu, masih tersimpan baik oleh pemiliknya. Mau ??? SOLD OUT

Stand Ned-Indies

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Perabotan Nederlandsche Indies mewah pada zamannya dihadirkan kembali dan menjadi sebuah "ikon sejarah" menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi.


Dilihat dari fungsinya, sebagai media untuk menyimpan dan memajang barang-barang yang mempunyai kepantasan nilai untuk dipertunjukkan.


Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.


Bagian dasar perabot klasik ini memiliki 4 pilar penopang untuk menjamin stabilitas dan kuat untuk menahan beban yang cukup berat.

Selektif dan berkelas, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni.

Bentuk kayu pilar penopang berciri khas Indische dengan tiang kayu jati utuh lebih kuat dan tak mudah pecah.

Stand vase era Hindia Belanda ini juga berfungsi sebagai pelengkap interior ruangan yang bersifat dekoratif, dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.


Menilik Kemegahan Perabot Masa Lalu...

Koleksi ini salah satu dari sedikit yang tersisa dari kediaman "landhuisen" di Hindia Belanda tahun 1930 an dan terpelihara dengan baik.

Furniture yang ada pada masa lampau juga dipengaruhi oleh arsitektur yang berkembang saat itu yaitu The Empire Style.

Dekorasi interior Kolonial "mencintai" tata letak yang luas, di mana setiap subjek dialokasikan ruang interiornya.

Mempunyai ukuran T.140 cm x L.60 cm sungguh warisan masa lampau yang berharga, yang dahulu sempat prominen dimasanya.

Apresiasi yang tinggi pada upaya pemeliharaan yang amat rapi, sehingga perabotan tersebut masih sangat kokoh dan dapat dipakai hingga saat ini. Tertarik memilikinya ? SOLD OUT

Meja Altar Peranakan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Koleksi meja altar Cina Peranakan ini merupakan jejak sejarah yang merekam bentuk eksotisme nilai paduan gaya tradisional Tionghoa di bumi Nusantara pada masa kolonialisme.

Koleksi meja altar masa lampau tersebut memang tak berasal dari Tiongkok, namun yang pasti pernah dipergunakan oleh keluarga Tionghoa di Indonesia dan berusia puluhan tahun.

Dekorasi profil semuanya dilakukan dengan memahat langsung pada selembar permukaan bidang kayu jati bukan berupa tempelan. 

Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.

Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, kursi ini selalu mengkilap. Tekstur dan kerapian pengerjaan memiliki kadar craftmanship yang tinggi.

Nuansa China Peranakan sangat terasa dari segi bentuk pahatan, ornamen dekoratif yang masih dibiarkan seperti aslinya.

Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah. Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya karena membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.


Akulturasi Perabot Peranakan di Nusantara...

Budaya China Peranakan atau yang lebih dikenal sebagai Straits Chinese adalah produk asimilasi, akulturasi dan proses hibrida panjang selama berabad-abad antara budaya pendatang Tionghoa dari Tiongkok, penduduk setempat (pribumi) dan Belanda yang saat itu berkuasa di Nusantara.

Kelengkapan aksesoris perabotan rumah tangga yang digunakan berbeda dari rakyat biasa sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas

Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa masa kini adalah kepanjangan tangan dari komunitas Tionghoa pada masa lalu. Sebuah meja altar China Peranakan Lasem kuno berukuran P.106 cm x L.53 cm x T.91 cm tinggalan budaya yang sarat dengan nilai kearifan lokal.

Tidak dapat dilacak dengan pasti kapan meja altar rumah China Peranakan ini dibuat, tapi diperkirakan sekitar tahun 1920-an. Merupakan barang yang sulit didapat dan lebih unggul kualitas kayu.

Status seseorang ditunjukkan melalui kualitas perabotan yang dipakai, sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik. Perabotan ini rata-rata dipakai oleh Peranakan Tionghoa Indonesia berabad lalu.

Keindahan desain perabot tua bergaya China Peranakan ini masih menarik untuk dipandang hingga kini.  Kita bisa menggali lagi kenangan dan sejarah yang tak lekang oleh masa.  SOLD OUT

Batik Tiga Negeri - Ny.Tjoa Siang Gwan (N.O.S - New Old Stock)

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Segel etiket kertas ini mewakili ukuran keamanan keaslian karya, efektif mencegah penjualan batik yang belum selesai kepada pihak ketiga. Merek kertas membuktikan kain batik adalah asli Ny.Tjoa Siang Gwan dibuat di bawah pengawasan pribadi.

Selain untuk melindungi desain dan melindungi batik dari dicuri saat pengerjaan batik membawanya ke tempat lain untuk pewarnaan, membubuhkan merek etiket yang berisikan nama dan alamat pembatik juga merupakan saran untuk beriklan.

Pengusaha batik yang berstatus tinggi, hanya memproduksi batik dengan kualitas baik, lebih halus, serta memperhatikan corak yang rumit. 

Motif sarung batik tiga negeri dari juragan batik Ny.Tjoa Siang Gwan ini diminati oleh golongan Tionghoa kaya sebagai kelompok sosial tinggi di sekitar tahun 1930-an.

Disainnya yang klasik, lugas tanpa banyak ragam hias yang berlebihan sebagai "one of the most famous peranakan batik".

Kondisi yang sangat terawat baik, biasanya menunjukkan bahwa kain ini telah disimpan dengan sangat baik untuk waktu yang sangat lama.

Mereka jarang mengusahakan batik cap, karena corak tradisional yang rumit sukar dikerjakan dengan cap. Mereka menganggap batik cap itu kasar, baik dari segi bahan maupun hasil gambar.


Classical Javanese Batik : Batik Tiga Negeri (Three Country Batik)

Kerumitan membuat sepotong batik tulis ternyata masih belum cukup jika kita tahu sejarah motif Batik Tiga Negeri. Motif Batik Tiga Negeri merupakan gabungan batik khas Lasem, Pekalongan dan Solo, pada jaman kolonial wilayah memiliki otonomi sendiri dan disebut negeri.

Konon menurut para pembatik, air disetiap daerah memiliki pengaruh besar terhadap pewarnaan, dan ini masuk akal karena kandungan mineral air tanah berbeda menurut letak geografisnya. Maka dibuatlah batik ini di masing-masing daerah.

Pertama, kain batik ini dibuat di Lasem dengan warna merah yang khas, seperti merah darah, setelah itu kain batik tersebut dibawa ke Pekalongan dan dibatik dengan warna biru, dan terakhir kain diwarna coklat sogan yang khas di kota Solo. SOLD OUT

Kursi Swanci China Peranakan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Jika dicermati kursi swanci ini merupakan karya pertukangan yang sangat detail, langka dan datang dari keterampilan yang tinggi. Namun, sejarah dan kesan kuno yang timeless di masa kini justru akan menambah nilainya menjadi berlipat ganda, dan diburu oleh para kolektor benda seni China Peranakan.

Perabot yang dibuat di Tiongkok mempunyai beberapa karakter berbeda. Selain dari jenis bahan kayunya, ukiran ornamen ini memiliki motif yang khas, tampil eksklusif dan personal.

Koleksi perabot kayu swanci masa lampau tersebut memang berasal dari Tiongkok, namun yang pasti pernah dipergunakan oleh keluarga China Peranakan di bumi Nusantara dan berusia puluhan tahun.

Pada umumnya Perabot China Peranakan dari swanci seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Selain ergonomis dan menarik, sampai kini pun kondisinya tidak berubah, menggunakan bahan yang berkualitas tinggi.

Nuansa China Peranakan sangat terasa dari segi bentuk pahatan dan ornamen dekoratif dari kerang rumit. Pembuatannya secara konvensional, tidak pabrikan tapi satu persatu. 

Kayu swanci berkualitas bagus memiliki permukaan yang sangat dekoratif. Tekstur dan serat kayunya terbentuk dengan sempurna dan indah.

Sangat kokoh dan tidak berubah hingga sekarang, perabot swanci ini punya standart kualitas sendiri. 

Meski demikian detail dan rumit, gaya Peranakan juga memberikan kesan berkelas, pasalnya banyak digunakan di rumah-rumah landhuis dan kapitan Tionghoa. 

Koleksi sepasang kursi dan meja teh masa lampau ini merupakan jejak sejarah yang merekam bentuk eksotisme nilai paduan gaya tradisional Tionghoa di bumi Nusantara pada masa kolonialisme.



Sebuah Jejak Perabotan Peranakan...

Budaya Tionghoa Peranakan adalah produk asimilasi, akulturasi dan proses hibrida panjang selama berabad-abad antara budaya pendatang Tionghoa dari Tiongkok, penduduk setempat (pribumi) dan Belanda yang saat itu berkuasa di Nusantara.

Kelengkapan aksesoris perabotan rumah tangga yang digunakan berbeda dari rakyat biasa sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu. 

Sepasang kursi meja teh berbahan kayu swanci ini misalnya. Perabot ini diproduksi di Tiongkok pada awal abad 20 atau sekitar tahun 1920. Hanya orang-orang kaya yang bisa mendatangkan. Mereka sudah berhasil dan mapan dengan usaha yang dimiliki. Namun masih terkenang dengan budaya asal, sehingga membeli barang keramik dan furniture itu dari Tiongkok langsung.

Apresiasi yang tinggi pada upaya pemeliharaan yang amat rapi, sehingga perabotan tersebut masih sangat kokoh dan dapat dipakai hingga saat ini. Mau ??? SOLD OUT