Pronkast de Batikkerij (Vorstenlanden)

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Ciri khas perabotan Vorstenlanden adalah perhatian terhadap detail. Furniture yang dipakai komunitas priyayi cukup variatif. Rata-rata memiliki motif ukir di beberapa bagian.

Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.


Dilihat dari fungsinya, 2 baris ruang sebagai media untuk menyimpan barang. Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.

Kunci berfungsi dengan baik. Jika dilihat semua seperti tak berubah, original dan terawat baik.


Tampak jelas terlihat pembedaan gradasi yang timbul akibat efek iklim tropis yang berlangsung selama puluhan tahun.

Dekorasi ornamen motif ukiran tersebut menjadi karakteristik tersendiri untuk komunitas elit Vorstenlanden.


Gaya Perabot Vorstenlanden

Sebuah lemari pajang (prongkas) jejak warisan kemewahan priyayi keraton Jawa. Terkabar perabot ini juga disebut Pronkast de Batikkerij.

Perabotan Indies ini patut disyukuri karena masih berfungsi dengan baik dan utuh yang dapat menceritakan masa lalu.

Lemari pronkas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial, mempunyai ukuran T.150 cm x P.75 cm x L.55 cm.

Melalui koleksi lemari ini kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat penguasa Vorstenlanden masa lampau. Eksotis ! SOLD OUT

Kursi Kompeni (Oma Opa-de Stoel) 1910's

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Furniture yang ada pada masa lampau juga dipengaruhi oleh arsitektur yang berkembang saat itu yaitu The Empire Style.

Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya.

Koleksi kursi kompeni ini memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa sentris masa lampau.

Memanfaatkan kualitas kayu jati solid bidang lengkung yang lebar, hal itu dapat dilihat pada alas duduk dan sandaran tangan kursi. 

Jika dicermati desain dan tekstur dengan ukiran ornamen yang ditonjolkan merupakan ciri gaya Indies yang berkembang di masa kolonial Hindia Belanda sekitar dekade 1910 an.

Nuansa Indo-Eropa sangat terasa dari segi bentuk, ornamen dekoratif yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.

Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda menjadi gaya bentuk yang tak lekang dimakan waktu. 

Karakternya dianggap sempurna, maturity, bertahan lama dan klasik.

Walau kursi ini dibuat lebih dari 90 tahun yang lampau dengan paduan cita rasa Eropa, namun kursi ini masih sangat nyaman dipakai hingga masa kini.

Sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.


Merekam Sejarah Lewat Koleksi Perabot Feodal....


Elemen-elemen bergaya vernakular Belanda yang banyak digunakan dalam perabotan kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1910-an.

Kursi dengan ukiran dengan ragam hias corak Majapahit dan paduan ragam hias Eropa di tambah dengan penggunaan rotan untuk sandaran punggung, dan alas sarana duduk.

Langgam gaya Indies sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa. Sungguh menarik dan mengundang decak kagum.

Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, kursi ini selalu mengkilap.

Kehadiran koleksi perabotan masa Dutch East Indies ini bisa memeriahkan tatanan ruang tamu anda.

Kelebihan lain dari sepasang kursi yang mempunyai ukuran P.67 cm (63 cm) x L.79 cm (56 cm) x T.98 cm (39 cm) tersebut bisa masuk dalam segala style desain interior.

Material konstruksi bentuk lengkung yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar dan kualitas baik pada masanya. Sungguh suatu selera perabotan Indies yang penuh cita rasa. Mau ?? SOLD OUT

Meja Art Nouveau Studio Foto

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Dalam perjalanan waktu gaya perabotan Semarangan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Jika melihat kondisinya, koleksi ini tampaknya barang warisan zaman turun temurun dan belum mau dipensiunkan.

Simpel dan kuat desainnya, dapat dilihat dari penataan motif garis "tali air" yang seimbang.


Nuansa Art Nouveau sangat terasa dari segi bentuk yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.


Originalitas menjadi jaminan bagi karya seni dari masa lalu yang layak untuk dikoleksi.


Menggunakan garis-garis lengkung dan pola-pola organik seperti tumbuhan, memperkuat kesan Art Nouveau dan terlihat glamour. 

Dalam foto tersebut kita bisa melihat lagi bagaimana situasi masa lalu, keterlibatan etnis Peranakan ini adalah sebagai obyek terpotret, sebagai bagian dari properti studio foto komersial era kolonial. 


Meja Studio Foto : Membangkitkan Memori 100 Tahun Lalu...

Gaya Art Nouveau atau biasa disebut Semarangan tetap memiliki nilai yang lebih sekaligus nilai historis yang tak mungkin dimiliki oleh gaya lain.

Kursi studio foto bergaya Art Nouveau yang mempunyai ukuran P.65 cm x L.42 cm x T.78 cm  ini tertidur hampir puluhan tahun. Salah satu yang paling jadi primadona kolektor, bernilai sejarah dan terbatas jumlahnya.

Pola Art Nouveau menggoreskan garis pola rancangan yang mengalir alami dan harmonis. Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya. SOLD OUT

Renaissance Goat Head Chair

Author: Kedai Barang Antik / Labels: ,

Selain ergonomis, sudut kemiringan lengkung kursi menunjang kenyamanan. Sehingga berkesan bersahaja, masif dan berat.

Berburu kursi klasik semacam ini, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari desain kuno ini, bernilai sejarah dan terbatas jumlahnya.

Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.



Sudut sandaran tangan kursi menunjang kenyamanan, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.


Sampai kini pun kondisinya tidak berubah, sungguh memikat bagi siapa saja yang melihatnya. Just marvelous design. 

Bentuk konstruksi kaki penopang berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial.

Konstruksi lengkung kayu solid, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni.

Dalam foto tersebut kita bisa melihat lagi bagaimana situasi masa lalu. Dalam kurun waktu 1905-1915, pemilihan perabotan rumah tangga meramaikan ekstravagansa masyarakat Indies. Era itu disebut sebagai masa keemasan eksotik Hindia Belanda.


Merekam Jejak Kursi Studio Foto Komersil ...

Furniture yang ada pada masa lampau juga dipengaruhi oleh arsitektur yang berkembang saat itu yaitu Renaissance Style.

Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya atau bertalian dengan tanda status sosial.

Meski dianggap kuno dan ketinggalan zaman, namun pesona kursi ini tetap memikat. 

Gaya desainnya merupakan simbol kemewahan pada jaman dahulu yang bisa diasosiasikan juga dengan simbol kemewahan pada jaman sekarang. Mau ??? SOLD OUT

Cuiho Medicine Cabinet

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Lemari Cuiho masih berfungsi sebagaimana mestinya, walau usianya tergolong renta. Tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan.

Tak sekedar pajangan, lemari Cuiho ini menyimpan banyak cerita tentang budaya dan kebiasaan adat Tionghoa tradisi masa lampau.

Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.

Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah. Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya karena membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.

Ciri khas perabotan Peranakan adalah perhatian terhadap detail. Furniture yang dipakai komunitas Peranakan Tionghoa cukup variatif. Rata-rata memiliki motif ukir di beberapa bagian.

Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.

Dilihat dari fungsinya, 3 susun baris ruang sebagai media untuk menyimpan barang. Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.

Dekorasi ornamen motif ukiran tersebut menjadi karakteristik tersendiri untuk komunitas elit Peranakan.

Koleksi lemari Cuiho masa lampau tersebut memang tak berasal dari Tiongkok, namun yang pasti pernah dipergunakan oleh keluarga Tionghoa di nusantara dan berusia puluhan tahun.


Lemari Cuiho Peranakan Dalam Perjalanan Waktu...

Istilah cuiho, berasal dari bahasa Tionghoa, zihao, dalam istilah Hokkian disebut jiho, artinya merek atau nama toko.

Lemari cuiho lazimnya dijadikan hadiah perkawinan dari orangtua kepada anak-anak mereka yang menikah. Sejak tahun 1920-an tradisi ini digantikan dengan mebel-mebel bergaya Eropa.

Budaya Tionghoa Peranakan di Indonesia adalah hasil akulturasi belasan abad yang unik dan amat kaya, yang lebih beragam dibanding ekspresi budaya orang Tionghoa di Malaysia dan Singapura.

Ia mewakili budaya dan tradisi masa lampau yang kental dengan gaya hidup saat itu; yang bersahaja.
Itu tercermin dari bentuk-bentuk desain detail dan ornamen nya memiliki tampilan yang dibiarkan apa adanya.

Gaya Peranakan juga penuh dengan makna dan simbolisasi. Ini membuatnya semakin menarik. Usia dan desain antiknya, juga semangat zaman yang dipancarkan lemari cuiho tersebut menjadi daya pikat tersendiri.

Lemari Cuiho yang mempunyai ukuran P.60 cm x L.30 cm x T.80 cm ini menarik untuk dikenang dan ditampilkan kembali identitas Tionghoa Peranakan tempo doeloe. 

Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa masa kini adalah kepanjangan tangan dari komunitas Tionghoa pada masa lalu.

Selain jenis kayu, menarik juga untuk dicermati bagaimana lemari Cuiho ini dibuat dengan rapi ada pahat yang hanya sekadar tampak timbul, dibuat dengan metoda korek, membuat permukaan kayu jadi cekung dan sisi luar cekungan garis dicat warna prada emas kemerahan masih dibiarkan seperti aslinya.

Sambungannya tidak menggunakan paku melainkan dengan kayu sendiri melalui sistem sambungan yang disebut dengan istilah buntut burung. Berminat ? SOLD OUT

Tenong Sangjit Peranakan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Nuansa China Peranakan sangat terasa dari segi bentuk, ornamen dekoratif yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.

Perpaduan sisi praktis yang ditampilkan melalui pembagian area penyimpanan. Warna asli mulai tergradasi karena faktor usia dan pemakaian.

Koleksi tenong hantaran pernikahan China Peranakan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.

Nyatanya material tenong ini masih kokoh dan bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.

Kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat Tionghoa Peranakan masa lampau. Eksotis ! 

Meski bekas, kualitasnya masih sangat terjaga.


Tak sekedar pajangan, meski berusia renta tenong antik ini menyimpan banyak cerita tentang gambaran Indonesia pada jamannya.

Usia Tenong Peranakan " Sangjit" ini jauh lebih tua dari usia anda. Sayangnya, keberadaan elemen bernuansa masa lampau itu kini terbilang langka dan susah ditemukan.

Tenong antik ini pun masih tampak kokoh dan mantap, bahkan tampilannya sangat menggoda mata.


Kemeriahan Seserahan Adat Tionghoa...

Masyarakat Tionghoa memang terkenal dengan keteguhannya memegang adat istiadat leluhur, sehingga meski mereka telah turun temurun serta membaur dengan masyarakat setempat, adat istiadat leluhur mereka tak pernah luntur.

Kini keranjang antik berukuran T.36 cm x diameter 25 cm jenis ini tentu saja sudah jarang kita temui. Suasana Pecinan tempo doeloe bisa muncul dengan merancang dan menata dekorasi rumah dengan pernak-pernik bergaya antik oriental.

Pada masa lalu, pesta pernikahan yang diadakan oleh kaum China Peranakan atau yang lebih dikenal sebagai Straits Chinese selalu dimeriahkan gamelan Jawa dan orkes China. 

Nada-nada dari dua budaya berdampingan dengan harmonis, menyanyikan lagu indah yang bisa dinikmati oleh semua orang. Itulah orang China Peranakan di Indonesia pada masa lampau...

Pernik Tenong Sangjit Peranakan kuno masa kolonial di Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi juga semakin menyusut drastis. 

Benda-benda warisan tradisi Tionghoa itu tak bernyawa, tapi menyimpan literasi kisah sejarah Peranakan di Indonesia panjang terentang. Berminat ?  SOLD OUT