Tampilkan postingan dengan label Batik Eliza van Zuylen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batik Eliza van Zuylen. Tampilkan semua postingan

The Masterpieces of Batik Eliza van Zuylen

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Woman's Hip Wrapper (Sarong), E. van Zuylen (1910-1920)


Bagi kalangan pecinta batik, siapa yang tak kenal batik E.van Zuylen ?? Eliza van Zuylen adalah maestro pembuat batik di Indonesia kelahiran Belanda. Dia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1863-1947 saat Belanda menjajah Indonesia. Setelah tahun 1860, Pekalongan menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai batik Belanda.

Gaya Indo-Belanda di awal 1900-an ditandai dengan gaya yang sederhana gambar burung, bunga, pola geometris dan garis diagonal yang sederhana. Koleksi Eliza van Zuylen merupakan merek dagang dari batik Pekalongan dan ditiru sepanjang seluruh pantai utara pada masa itu.

Melalui teknik pewarnaan alami yang rumit, bengkel batik milik pengusaha Eliza van Zuylen menghasilkan gradasi warna yang sempurna dari setiap helai warna kain tersebut. Kebiasaan membubuhkan tanda tangan dan tanda cap oval pada setiap lembar batiknya untuk menunjukkan tiap lembar kain dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan.

Eliza Charlotte (Lies) van Zuylen menandatangani " E v Zuylen " sebagian besar batik produksi nya itu untuk menjamin keaslian, ukurannya 210,0 cm ( h ) x 108,0 cm ( w ). Karena banyak dari para pekerja pembuat batik nya bekerja di rumah mereka sendiri, terutama selama periode puncak masa kejayaannya.

Kain ini juga memiliki penandaan cap oval hitam di sudut bagian, " Batikkerij " (workshop batik ) / Mevr. E. van Zuylen - Pekalongan. Karena itu saya memperkirakan kain batik ini berasal dari sekitar awal tahun 1910-an.

Tanda tinta cap oval ini mewakili ukuran keamanan keaslian karya, efektif mencegah penjualan batik yang belum selesai kepada pihak ketiga. Tanda cap membuktikan kain batik adalah asli Eliza van Zuylen dibuat di bawah pengawasan pribadi, dan dia sendiri dicatat adalah seorang perfeksionis dalam berkarya.

Pilihan warna terbatas di sini mungkin karena fakta bahwa kain ini dibuat sebelum kedatangan pewarna sintetis di Hindia Belanda.

Penguasaan teknis, desain dan kualitas kain (di impor langsung dari India), bagaimanapun, membuatnya berbeda. Sering terinspirasi oleh bunga pada kartu ucapan Belanda, karangan bunga, seperti yang ditunjukkan pada bagian kain ini. Jenis batik tulis periode awal Indo-Belanda, saat ini sangat dicari di seluruh komunitas kolektor batik dunia .

KONDISI :

Jenis kain batik periode awal tahun 1910-an ini menjadi langka di tingkat yang mengkhawatirkan, hampir mustahil untuk menemukan.

Dalam kondisi baik dan bersih, warna masih cerah, tidak ada lubang ngengat, tidak ada perbaikan maupun tisikan.

Kondisi yang sangat terawat baik, biasanya menunjukkan bahwa kain ini telah disimpan dengan sangat baik untuk waktu yang sangat lama.

Kemilau pada permukaan kain seperti yang terlihat dalam gambar foto tersebut adalah seperti dalam kondisi aslinya .

Pegangan kain ini sangat tipis namun kuat, kain masih renyah ("kemresek") setelah bertahun-tahun lamanya disimpan.

Setiap kali saya harus mengingatkan diri sendiri, bahwa saya tidak sedang memegang selembar kertas  :)) Tertarik memilikinya ???  SOLD OUT

Batik Antik E. van Zuylen

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

The Masterpieces of Batik Pesisir

Koleksi Merk Tua Yang Bertahan Hingga Kini...

Bagi kalangan pecinta batik, siapa yang tak kenal batik E.van Zuylen ?? Eliza van Zuylen adalah maestro pembuat batik di Indonesia kelahiran Belanda. Dia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1863-1947 saat Belanda menjajah Indonesia. Setelah tahun 1860, Pekalongan menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai batik Belanda.

Pola Art Nouveau yang memukau dari koleksi Eliza van Zuylen menjadi merek dagang dari batik Pekalongan dan ditiru sepanjang seluruh pantai pesisir utara pada masa itu. Melalui teknik pewarnaan alami yang rumit, bengkel batik milik pengusaha Eliza van Zuylen menghasilkan gradasi warna yang sempurna dari setiap helai warna kain tersebut. Kebiasaan membubuhkan tanda tangan dan tanda cap oval pada setiap lembar batiknya untuk menunjukkan tiap lembar kain dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan.

Koleksi kain batik asli Eliza van Zuylen ditandatangani, "E v Zuylen " dan dicap "Batikkerij" (batik workshop) / Mevr. E. van Zuylen - Pekalongan. Karena banyak dari para pekerja pembuat batik nya bekerja di rumah mereka sendiri, terutama selama periode puncak masa kejayaannya, tanda tinta cap oval ini mewakili ukuran keamanan keaslian karya, efektif mencegah penjualan batik yang belum selesai kepada pihak ketiga. Tanda cap membuktikan kain batik adalah asli Eliza van Zuylen dibuat di bawah pengawasan pribadi, dan dia sendiri dicatat adalah seorang perfeksionis dalam berkarya.

Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu dan proses yang rumit, tidak pabrikan tapi dibuat satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik. Tak mengherankan untuk mendapatkan koleksi kain batik asli orisinil Eliza van Zuylen ini, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik ini. Tertarik memilikinya ?? SOLD OUT

Sarung Encim Pekalongan

Author: Kedai Barang Antik / Labels: ,

Batik Sam Pek Eng Tay

Motif ini terdiri dari corak buketan dan tersusun dalam dua bagian yang berbeda baik ragam hias maupun warnanya. Koleksi batik pesisiran ini secara simbolis menggambarkan sepasang kupu-kupu, yang mengisahkan cinta antara dua orang kekasih yang berlainan status, dan cinta mereka yang murni ini ditentang oleh kedua orang tua masing-masing. Kedua kekasih ini akhirnya menempuh jalan untuk mati bersama dan memohon untuk dikuburkan dalam satu liang kubur.

Setelah mereka dikuburkan bersama, mereka menjelma menjadi sepasang kupu-kupu dan terbang bercumbu-cumbuan dengan penuh kasih sayang. Itulah sebabnya Batik Encim ini terlukis sepasang kupu-kupu yang merupakan lambang pernikahan yang bahagia dalam kebudayaan China.

Batik merupakan seni kerajinan warisan leluhur Indonesia yang secara turun temurun menjadi kebanggaan rakyat Indonesia, sehelai wastra (kain) batik pada warna dan polanya akan dipengaruhi zamannya atau lingkungannya.

Tradisi menggunakan batik sebagai busana menempatkan posisi batik sebagai warisan budaya yang telah dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan jaman. Adanya kebanggaan untuk menggunakan batik sebagai busana faktor pendukung mengapa batik terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Berminat ?? SOLD OUT

Batik Eliza van Zuylen

Author: Kedai Barang Antik / Labels:






Woman's Hip Wrapper (Sarung), 1937-1942


Warna dari Pesisir: Batik Antik Eliza van Zuylen

Siapa yang tak kenal batik ? Setiap kali memandang kain batik selalu terasa ada pesona yang memancar. Bukan sekadar keindahan perpaduan dan komposisi ragam hias serta permainan warna yang menarik diamati, tetapi juga semangat zaman yang dipancarkan kain tersebut.

Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik.

Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik. Kain ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi, dipuja dan disimpan bak barang antik.

Setelah tahun 1860, Pekalongan memang menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai Batik Belanda. Terutama di Pekalongan-lah ragam hias dan komposisi batik mengalami proses Eropanisasi, terutama dalam inspirasi dan pengerjaan. Hal ini karena ada kebutuhan dari pembeli orang-orang Indo-Eropa, laki-laki dan perempuan.

Batik yang terutama berasal dari pengusaha batik berdarah Indo-Eropa seperti Eliza van Zuylen menjadi keharusan untuk dimiliki sebagai penunjuk keterhubungan dengan komunitas Belanda pada masa itu.

Eliza van Zuylen adalah maestro pembuat batik di Indonesia kelahiran Belanda. Dia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1863-1947 saat Belanda menjajah Indonesia.

Eliza van Zuylen memberi sumbangan dalam perkembangan batik melalui kebiasaan membubuhkan tanda tangan pada setiap lembar batik mereka untuk menunjukkan tiap lembar dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan.

Pada gaya ragam hias dan komposisi yang menciptakan gaya khas Pekalongan diantaranya penggunaan motif buket bunga atau lebih dikenal sebagai buketan yang kemudian dipandang sebagai esensi Batik Pesisir.

Buket berukuran besar ini diletakkan di bagian badan maupun kepala kain, bagian badan dihiasi lambang kemakmuran yang disebut Horn of Abundance. Sedangkan bunga buket dan burung gereja adalah salah satu ciri utama Batik Belanda.

Batik Belanda menjadi penanda kelas sosial pada masyarakat kolonial yang dibeda-bedakan berdasarkan ras dan status sosial. Batik yang dikenakan sebagai kain panjang atau sarung dan kebaya atau atasan longgar bergaya tunik menjadi pakaian favorit orang Indo-Eropa karena sesuai dengan iklim tropis.

Batik-batik koleksi Eliza van Zuylen bukan hanya indah, tetapi juga memberi pemahaman tentang sebuah penggalan sejarah Indonesia. Inilah gambaran penggalan sejarah kolonial di Indonesia.

Woman's Hip Wrapper (Sarung), Eliza van Zuylen,

Pekalongan - Central Java
Circa : 1937-1942
Size : 106 cm x 103 cm
SOLD OUT

Batik Antik Eliza van Zuylen

Author: Kedai Barang Antik / Labels:






Woman's Hip Wrapper (Sarung), 1937-1942


Warna dari Pesisir: Batik Antik Eliza van Zuylen

Siapa yang tak kenal batik ? Setiap kali memandang kain batik selalu terasa ada pesona yang memancar. Bukan sekadar keindahan perpaduan dan komposisi ragam hias serta permainan warna yang menarik diamati, tetapi juga semangat zaman yang dipancarkan kain tersebut.

Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik.

Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik. Kain ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi, dipuja dan disimpan bak barang antik.

Setelah tahun 1860, Pekalongan memang menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai Batik Belanda. Terutama di Pekalongan-lah ragam hias dan komposisi batik mengalami proses Eropanisasi, terutama dalam inspirasi dan pengerjaan. Hal ini karena ada kebutuhan dari pembeli orang-orang Indo-Eropa, laki-laki dan perempuan.

Batik yang terutama berasal dari pengusaha batik berdarah Indo-Eropa seperti Eliza van Zuylen menjadi keharusan untuk dimiliki sebagai penunjuk keterhubungan dengan komunitas Belanda pada masa itu.

Eliza van Zuylen adalah maestro pembuat batik di Indonesia kelahiran Belanda. Dia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1863-1947 saat Belanda menjajah Indonesia.

Eliza van Zuylen memberi sumbangan dalam perkembangan batik melalui kebiasaan membubuhkan tanda tangan pada setiap lembar batik mereka untuk menunjukkan tiap lembar dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan.

Pada gaya ragam hias dan komposisi yang menciptakan gaya khas Pekalongan diantaranya penggunaan motif buket bunga atau lebih dikenal sebagai buketan yang kemudian dipandang sebagai esensi Batik Pesisir.

Buket berukuran besar ini diletakkan di bagian badan maupun kepala kain, bagian badan dihiasi lambang kemakmuran yang disebut Horn of Abundance. Sedangkan bunga buket dan burung gereja adalah salah satu ciri utama Batik Belanda.

Batik Belanda menjadi penanda kelas sosial pada masyarakat kolonial yang dibeda-bedakan berdasarkan ras dan status sosial. Batik yang dikenakan sebagai kain panjang atau sarung dan kebaya atau atasan longgar bergaya tunik menjadi pakaian favorit orang Indo-Eropa karena sesuai dengan iklim tropis.

Batik-batik koleksi Eliza van Zuylen bukan hanya indah, tetapi juga memberi pemahaman tentang sebuah penggalan sejarah Indonesia. Inilah gambaran penggalan sejarah kolonial di Indonesia.

Woman's Hip Wrapper (Sarung), Eliza van Zuylen,

Pekalongan - Central Java
Circa : 1937-1942
Size : 106 cm x 103 cm
SOLD OUT