Tampilkan postingan dengan label Briefkaart - Kartoepos Batavia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Briefkaart - Kartoepos Batavia. Tampilkan semua postingan

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #15

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


'' Kantoren Kali Besar Batavia ''
 

Historia : Kali Besar Batavia Tempo Doeloe

Pada zaman VOC, di sepanjang Kali Besar ada berbagai bangunan seperti kantor, gudang, pemukiman pribadi, gereja, dan pasar.

Kali Besar merupakan pusat perekonomian dan perdagangan VOC dimana terdapat bangunan-bangunan untuk pembuatan dan perbaikan kapal-kapal serta orang-orang kuli atau budak bekerja.

Daerah Kali Besar dipandang sebagai daerah kediaman kelas elit pada awal abad ke-18 dan menjadi daerah pusat kantor-kantor perdagangan internasional di era berikutnya. SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #14

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


'' Chinese Pasar Batavia ''
 

Beginilah Pasar China Ala Batavia Tempo Dulu

Pasar-pasar ini hanya menjual komoditas pangan, sedangkan barang-barang di luar komoditas pangan sangat sulit ditemukan.

Keindahan dan kebersihan kota mendapat perhatian lebih bagi masyarakat Eropa pada saat itu. Untuk membuat kota tampak bersih, maka diperlukan tata kota yang sesuai dengan kondisi wilayah dan masyarakatnya.

Passer Baroe dahulunya merupakan daerah elite lantaran letaknya tidak jauh dari kawasan Rijswijk (kini Jalan Veteran), yang dibangun pemerintah Belanda untuk orang-orang kaya di Batavia.

Passer Baroe adalah nama awal dari Pasar Baru yang dibangun pada 1820 oleh pemerintahan Belanda di Batavia. Pasar ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan warga Batavia yang hanya bergantung pada barang-barang yang dijual di pasar mingguan.  SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #13

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


'' Petoeakan Batavia ''
 

Wajah Petuakan Batavia Tempo Dulu

Jembatan yang ada di muka Jalan Petuakan. Suasana kampung, dimana udara yang sejuk dan nyaman banyak pohon-pohon rindang serta rumah penduduk yang masih jarang dahulu masih dapat kita jumpai di kampung Jembatan Lima.

Kampung Jembatan Lima pada masa pemerintahan Belanda masuk kawedanan Penjaringan kelurahan Angke Duri. Adapun dinamakan kampung Patuakan karena disana tempat mangkal penjual minuman tuak.
SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #12

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


'' Verkoopplaats van Bamboewerk Batavia ''

Bambu Sebagai Aktivitas Masyarakat Batavia

Sebagian besar rumah pada jaman dahulu menggunakan kerangka dari bambu terutama di Pulau Jawa. Bambu juga digunakan untuk membuat aneka kerajinan dan alat untuk menyimpan berbagai barang kebutuhan hidup sehari-hari.

Pada masa Kolonial Belanda di daerah Batavia dan Tangerang sekitar tahun 1910-an muncul industri-industri rumah tangga yang memproduksi alat-alat rumah tangga dari bambu, mulai dari topi, tempat nasi, keranjang sampah yang terbuat dari bambu.  SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #11

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


'' Pasar Ikan Batavia ''
 

Nuansa Pasar Ikan Batavia Tempo Dulu

Dua kanaal berbatasan dengan pasar ini, yaitu Maleischegracht dan Kali Besar dan kedua kanaal tersebut penuh dengan berbagai jenis perahu dan rakit yang membawa ikan segar dalam keranjang.

Sejak tahun 1672, nelayan-nelayan yang berjualan di Pasar Ikan bukan orang Batavia, tetapi mereka datang dari daerah pantai Utara Jawa Tengah, Jawa Timur dan Cirebon, sehingga mereka dinamakan "orang-orang wetan".

Orang-orang Cina juga berjualan di pasar ini dan mempunyai tempat jualan sendiri. Mereka wajib membayar 2 (dua) Rijkedaalders kepada Kompeni sebagai sewa tempat tersebut. SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #10

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


'' Kleine Boom Batavia ''

Kleine Boom: Kantor Kecil Pabean

Dari atas Menara Syahbandar dulu kala, Stads Herberg bisa terlihat, demikian pula suasana kesibukan pasar ikan, Kleine Boom dan Groote Boom.

Sebenarnya " Boom " dalam bahasa Belanda bermakna pohon, jadi Kleine Boom dan Groote Boom berarti pohon kecil dan pohon besar.

Perihal asal muasal nama tersebut berawal dari sekitar abad 18 yaitu di mana Belanda memasang balok kayu di depan Sungai Ciliwung untuk membatasi masuk keluarnya warga ke dalam kawasan pelabuhan.

Lokasi pemasangan balok kayu itu kemudian dikenal sebagai Groote Boom, kebetulan di depan kantor pabean. Seluruh perahu yang masuk dan keluar harus melalui pos pemeriksaan ini.

Jika di masa kini kita melihat kawasan tersebut dari atas Menara Syahbandar (kini jadi Museum Bahari)
Pasar Ikan, yang dibangun di tahun 1846, pun tersisa nama saja semua lenyap tak berbekas.
SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #9

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

" Oude Poort van Batavia "

Gerbang Amsterdam, Pintu Masuk Batavia...

Amsterdamsche Poort (Gerbang Amsterdam), disebut juga Pinangpoor (Gerbang Pinang). Bangunan ini adalah sisa peninggalan benteng VOC semasa J.P. Coen. 

Ketika benteng ini dibongkar pada masa Daendels, gerbang ini dipertahankan hingga berakhirnya kekuasaan Belanda di Batavia.

Sepasang patung yang ada adalah patung Dewa Mars dan Dewi Minerva. Kedua patung ini raib ketika pendudukan Jepang.  SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #8

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Sluisbrug Noordwijk Gebouw K.P.M. Weltevreden "
 

Pesona Jakarta Tempo Doeloe... 

Gedung dengan menara itu adalah kantor perusahaan pelayaran K.P.M (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang dibangun pada tahun 1888.

Kita dapat melihat panorama di Sluisbrug (= Jembatan Pintu Air) mengarah ke barat. Betapa lengangnya lalu lintas di Sluisbrug Straat (kini Jalan Pintu Air) pada awal abad ke-20. Jalan ini hanya dilewati delman atau sado.

Dos-a-dos (disingkat menjadi sado), adalah kereta pribumi di mana penumpang dan kusir duduk saling membelakangi.

Adanya pintu air ini, untuk menghindari banjir yang terjadi sejak dulu di Batavia. Tampak orang pribumi Betawi muda berseragam, tapi tanpa alas kaki. SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #7

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Gebouw Javasche Bank Batavia "

Mengintip Javasche Bank Batavia Tempo Doeloe...

Bangunan Javasche Bank (Ca.1920's) ini menganut gaya bangunan pada masa Renaisance.
Ciri-ciri ini terlihat dari dekorasi bangunan.

Tampak pula gaya renaissance pada pattern dinding bagian bawah yang dibuat bergaris-garis layaknya dinding-dinding dengan batu bata (masonry). Dibagian tengah-tengah gambar tampak diatas Terdapat menara jam yang lazim berada pada bangunan penting pada zaman kolonial. SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #6

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Hotel des Indes Molenvliet Weltevreden "
 

Hotel des Indes, Ikon Batavia...

Hotel terbesar di Batavia yang terletak dekat ujung selatan Molenvliet West (Jl. Gajah Mada), berdiri di atas tanah seluas 3,1 ha.

Para tamu di Hotel des Indes menunjukkan tipologi masyarakat campuran. Mereka duduk bersama untuk saling beradu pendapat di "rumah sementara mereka" setelah mengunjungi Societeit Harmonie atau tempat lain.

Perluasan dirancang pada tahun 1928, dan selesai untuk dibuka dengan keadaan dan dekorasi menawan pada bulan Mei 1930. Setelah kemerdekaan namanya berganti Hotel Duta Indonesia, kini menjadi kompleks pertokoan Duta Merlin.  SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #5

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Gezicht op Molenvliet Weltevreden "
 

Plesiran Di Molenvliet Batavia....

Tampak sepanjang kanal Molenvliet (sekarang jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk) dimana wilayah itu dirasakan lebih bersih dan sejuk. Serta Weltevreden (dalam bahasa Belanda, Weltevreden berarti ‘tenang’ dan ‘puas’).

Kemudian jalan-jalan atau naik kereta pada waktu senja ke Koningsplein, disana tuan-tuan dan nyonya elit berkumpul dan hilir mudik. Saat itu daerah Weltevreden meliputi daerah Lapangan Banteng, Gambir, Monas dan daerah sekitarnya.  SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #4

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Waterlooplein met den Leeuw van Waterloo Weltevreden "

Lapangan Banteng (Waterlooplein, Lapangan Singa) Riwayatmu

Pada 1828 pula, di tengah lapangan banteng didirikan Monumen Pertempuran Waterloo (Belgia), tempat dimana Napoleon mendapatkan kekalahan secara definitif.

Dan karena itu pula, lapangan di sekitarnya mendapat nama Waterlooplein (Lapangan Waterloo). Selama abad ke-19, Lapangan Waterloo merupakan pusat kehidupan sosial. Orang-orang Batavia pada sore hari berkumpul dengan menunggang kuda atau kereta untuk saling bertemu.

Lapangan banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa karena terpancang tugu obelisk dengan patung singa di atasnya. Monumen kolonial dan tugu singa itu sendiri dihancurkan pada masa penjajahan Jepang.
SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #3

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Wilhelmina Park met het Atjeh Monument Weltevreden "

Taman Wilhelmina Nasibmu Kini...

Taman Wilhelmina atau Wilhelmina Park adalah salah satu taman yang dibangun pemerintah Belanda pada abad ke-19. Taman yang satu ini dikenal sebagai taman terluas yang pernah ada di Batavia.  

Wilhelmina Park juga merupakan salah satu tempat tamasya favorite bagi para pembesar Kompeni, serta tuan tanah yang menetap di sekitar Weltevreden.

Hal menarik yang dapat diceritakan dari Taman Wilhelmina adalah, karena letaknya yang sangat dekat dengan Sungai Ciliwung pengunjung dapat mendengar suara gemericik air mengalir.

Selain itu , di lokasi ini terdapat benteng bernama “Benteng (Citadel) Prins Frederik Hendrik”, yang oleh warga pribumi sering kali disebut sebagai “Gedung Tanah”, serta sebuah Monument “Waterloo” atau dikenal juga dengan nama “Atjeh Monument”.

Seiring perkembangan zaman kondisi Taman Wilhelmina semakin hari makin tidak terawat. Hingga akhirnya atas permintaan Presiden Soekarno seluruh taman beserta bangunan yang terdapat didalamnya ditata ulang.
Dan areal bekas “Benteng Frederik Hendrik” didirikan Masjid Istiqlal. SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #2

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


" Inlandsche Fruitverkoopers op het Koningsplein Weltevreden "

Pedagang Buah di Koningsplein Weltevreden....

Pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas olahraga seperti jalur atletik dan stadion di Koningsplein (Lapangan Raja). Terletak di pusat kota, luasnya membentang sejauh satu kilometer. Butuh satu jam untuk jalan berkeliling. Di sini pada sore hari berkumpul para orang kaya dan orang-orang paling bergaya di Weltevreden, di atas kuda atau di dalam kereta kuda.

Penduduk pribumi menamai lapangan itu "Lapangan Gambir", konon berdasarkan banyaknya pohon gambir di tempat itu. Lapangan ini kemudian hari dikenal dengan nama Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Lokasi ini sekarang menjadi lapangan Merdeka tempat atau lokasi Monas berdiri.

Lapangan Gambir menjadi lokasi Pasar Gambir, sebuah Pasar Malam besar yaitu pekan raya yang dimulai untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 1906. Sejak tahun 1921 Pasar Gambir menjadi perhelatan tahunan dan menjadi pendahulu dari Pekan Raya Jakarta. SOLD OUT

BATAVIA TEMPO DOELOE BRIEFKAART #1

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Menikmati Sejarah Batavia Tempo Dulu Lewat Kartu Pos....

Briefkaart Japansche Toko K. Shimane, Batavia 1920



Batavia (Jakarta) merupakan sumber yang tak ada habis-habisnya untuk ditulis dan dikaji. Banyak kisah tercecer di Batavia yang belum diungkapkan. Terutama dalam kurun waktu tertentu. Kisah atau pengalaman yang menarik dan dapat dinikmati oleh khalayak.

" Gang Ketapang Bikin Terang Batavia "

Saat orang mendengar kata Ketapang,  umumnya mereka akan mengkaitkan dengan nama Jalan Ketapang (kini bernama K.H.Zainul Arifin).  Dulunya memang disebut Gang Ketapang yang menghubungkan jalan Gajah Mada dengan jalan Jembatan Lima. Pohon Ketapang, memang pernah  hidup dan tumbuh banyak dengan subur di daerah ini.

Di utara gang terdapat gedung Perusahaan Gas Belanda bernama L.I Eindhoven & Co . Sampai sekarang pun perusahaan gas milik negara juga menempati gedung ini. Pabrik gas tersebut dibangun tahun 1862, bahannya batu arang (steenkool) yang dibakar.

Kehadiran perusahaan gas itu disambut gembira penduduk Batavia. Juga membuat kota Batavia semakin semarak, tentunya, dengan tumbuhnya tempat-tempat hiburan, restoran, penginapan, dan pusat belanja.
SOLD OUT