Mampu bertahan hingga ratusan tahun, maka koleksi ini bisa dikatakan mengungkap perjalanan kultural yang bersifat romantis nostalgis.Benda-benda warisan tradisi Tionghoa masa lampau itu tak bernyawa, tapi menyimpan kisah sejarah panjang terentang.
Jenis perabot Tionghoa periode awal tahun 1910-an ini menjadi langka di tingkat yang mengkhawatirkan, hampir mustahil untuk menemukan dalam kondisi baik dan utuh seperti ini.
Kayu jati masa lampau sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca.
Kayu jati tua berkualitas bagus memiliki permukaan yang sangat dekoratif. Tekstur dan serat kayunya terbentuk dengan sempurna dan indah.
Dilihat dari fungsinya, 2 laci sebagai media untuk menyimpan barang. Gaya desainnya merupakan perpaduan antara tuntutan fungsionalitas dan estetika.
Sambungannya tidak menggunakan paku melainkan dengan kayu sendiri melalui sistem sambungan yang disebut dengan istilah buntut burung.
Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.
Material konstruksi panel papan yang digunakan adalah kayu jati bidang lebar utuh lembaran dan kualitas baik pada masanya.
Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, meja ini selalu mengkilap.
Sampai kini pun warnanya tidak berubah. Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya karena membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya.
Dekorasi ornamen motif ukiran tersebut menjadi karakteristik tersendiri untuk komunitas elit Peranakan.
Usia dan desain antiknya, menjadi daya pikat tersendiri. Itu tercermin dari bentuk-bentuk desain detail dan ornamen nya memiliki tampilan yang dibiarkan apa adanya.
Ciri khas perabotan Peranakan adalah perhatian terhadap detail. Furniture yang dipakai komunitas Peranakan Tionghoa cukup variatif. Rata-rata memiliki motif ukir di beberapa bagian.
Tampak tampilan ornamen motif tersebut menjadi karakteristik tersendiri untuk komunitas elit Peranakan.
Meja Konsol Peranakan : Kilas balik jejak perabotan Peranakan ....
Budaya China Peranakan atau yang lebih dikenal sebagai Straits Chinese adalah produk asimilasi, akulturasi dan proses hibrida panjang selama berabad-abad antara budaya pendatang Tionghoa dari Tiongkok, penduduk setempat (pribumi) dan Belanda yang saat itu berkuasa di Nusantara.
Di Indonesia, koleksi benda budaya Peranakan yang sudah diidentifikasi jumlahnya cukup banyak. Hanya saja, saya ingin menunjukkan jika 80 -100 tahun silam seperti itulah bentuk benda-benda budaya Peranakan di Indonesia.
Peranakan Console Table ini berukuran P.99 cm x L.55 cm x T.65 cm sungguh warisan masa lampau yang berharga. Koleksi ini salah satu dari sedikit yang tersisa dari kediaman "landhuisen" di Hindia Belanda tahun 1910 an dan terpelihara dengan baik.
Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.
Benda-benda warisan tradisi Tionghoa masa lampau itu tak bernyawa, tapi menyimpan kisah sejarah panjang terentang. SOLD OUT