Merek Djadoel dan Kerawanan Generasi Ketiga...
Kopi, siapa yang tidak kenal minuman satu ini. Indonesia juga merupakan negara penghasil kopi terbaik dunia. Toko kopi merek lokal ini memang betul-betul dari masa
van voor de oorlog.
Pada masa itu toko semacam ini disebut
koffiebranderij atau
coffee roaster atau penggoreng kopi, dan
Electrische Koffiebranderij Semarang Mritjan adalah
koffiebranderij andalan kota Semarang dengan nama perusahaan
"G. H. Tan"
Desain merek kopi ini sangat lokal. Bukan hanya lokasi pabrik dan peredarannya, melainkan juga mereknya. Ilustrasi logo kemasan wanita
Tionghoa dengan pakaian tradisional sedang memasak air sebagai visual utamanya.
Sungguh latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Cina. Bagi penikmat kopinya, mereka adalah simbol pemanjaan dorongan hedonistis.
Pada era itu, hampir semua produk dibuat dalam industri rumahan dengan modal yang mungkin tidak terlalu besar. Yang menarik, hampir semua produk itu dibuat oleh penduduk Indonesia keturunan Cina. Pada zaman itu, penjajah Belanda memang memposisikan mereka sebagai saudagar atau kelas pedagang.
Di masa lalu toko semacam ini disebut
koffiebranderij (
coffee roaster, penggoreng kopi), sama dengan
Tek Sun Ho di Jakarta yang kini ber
"metamorfosa" menjadi
"Bakoel Koffie". Setiap kota mempunyai
koffiebranderij andalan masing-masing.
"Aroma" adalah andalan Bandung yang masih berjaya hingga kini.
Pada akhirnya, daya tahan merek itu semuanya memang bergantung pada pemiliknya. Dalam banyak kasus, mulusnya regenerasi atau suksesi sangat mendukung keberhasilan produk itu bertahan di tengah persaingan
bisnis yang ketat.
Generasi pertama merintis dan membangun dalam kemiskinan, generasi kedua gigih mengembangkan kejayaan, dan generasi ketiga
ongkang-ongkang kaki menghabiskan kekayaan keluarga.
Ada puluhan merek Indonesia yang mampu bertahan lebih dari setengah abad. Memang, belum ada merek lokal yang mampu bertahan sampai ratusan tahun. Tertarik memilikinya ??
SOLD OUT