Sebelum tahun 1970 pesawat radio merupakan kebanggaan dan menjadikan sangat prestisius bagi pemiliknya. Radio itu berwarna hitam, model gelombang mata bagongan, baterai 4.
Bentuknya seperti tas, bisa ditenteng dan antenenya bisa dilipat ke dalam mengikuti bentuk radio tersebut. Suaranya lebih bening, dan menambah gengsi pemiliknya.
Menurut penelusuran radio ini dibeli sekitar tahun 1967, saat Orde Baru mulai berhasil menggeliatkan ekonomi anak negeri. Harga radio jadi murah. Dengan uang Rp 4.000,- yang berarti senilai emas 8 gram atau padi dua kwintal, orang sudah bisa beli radio transistor berbaterai 3, yang belakangnya ditutup harboard.
Bila semalaman nyetel wayang, pagi harinya baterai tersebut dijemur, agar kuat kembali suaranya. Bahkan ada, baterai itu dikukus (direbus) di atas nasi liwetan.
Koleksi radio transistor National - Macan tersebut mampu memikat hati pelanggan yang menjadi produk premium di pasar Indonesia pada masa itu.
Pendengar anak muda dimanjakan dengan lagu-lagunya Tety Kadi, Titik Sandora – Muhsin, Alfian, Erni Djohan, Anna Mathovani, Tanti Yosepha hingga Vivi Sumanti dan Christine.
Saya membayangkan keriuhan masa itu. Ketika diputar gelombangnya, muncul lagunya Bing Slamet "Nonton Bioskop" yang sedang ngetop kala itu. "Malam minggu aku pergi ke bioskup, bergandengan ama pacar nonton koboi..." Sangat memorable. Berminat ?? SOLD OUT



















































