Kursi Panjang Indische 3 Seat

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Dapat disimpulkan bahwa koleksi ini memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas yang tampaknya sudah ada pada tahun 1910-an.

Kesan klasik dan bentuk kursi yang unik cocok digunakan pada ruangan dengan gaya interior apapun sebagai centerpoint yang memukau dalam tataan interior.

Dengan beberapa pengaturan sudut yang tepat, anda akan mendapatkan sebuah penempatan yang dapat dinikmati oleh setiap mata yang memandang.

Bentuk konstruksi kursi berciri khas Indisch atau disebut gaya Indo-Eropa, model yang berkembang pada masa kolonial.

Selain ergonomis, proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.

Bentuknya yang elegan, telah membawa pengaruh dan kesan khusus bagi para pemakai kursi-kursi tersebut.

Nuansa Indisch sangat terasa dari segi bentuk yang atraktif masih dibiarkan seperti aslinya.


Merekam Sejarah Lewat Kursi Gaya Indo-Eropa....
 

Hindia Belanda memang surga bagi para tuan dan nyonya Eropa karena semua telah tersedia dalam berbagai macam bentuknya.

Mereka mendapatkan kemudahan dan juga membuat kehidupan mereka menjadi lebih santai dikarenakan pribumi yang terjajah.

Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis dengan pemilihan perabot, jika dilihat secara keseluruhan desain kursi 3 dudukan klasik bergaya kolonial ini sangat jauh dari kesan simpel.

Kursi panjang era Dutch East Indies berukuran P.140 cm x L.51 cm x T.126 cm (46,5 cm) ini memperkuat gaya sebuah interior, membentuk ciri khas, serta menciptakan sense of space ketika ada tamu yang memasuki rumah.

Anda bisa memanfaatkan sudut kosong di ruang tamu, ruang keluarga, atau ruang kerja. Model ini juga terlihat indah untuk penempatan ruang dengan desain formal, kasual, tradisional, ataupun modern.

Perabotan kuno masa kolonial di Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi juga semakin menyusut drastis. Tertarik memilikinya ?SOLD OUT

THONET Bentwood Chair

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Pada umumnya koleksi seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspresikan kemapanan pemilik.

Biasanya dimimiliki oleh pejabat pemerintahan atau Asisten Residen pada masa kolonial. Dalam perjalanan waktu gaya perabotan seperti ini sudah jarang sekali tersimpan dalam keadaan utuh.

Tak ada yang keberatan, tak ada pula yang menduga bahwa di kemudian hari, kursi THONET ini melegenda.

Dengan ciri bentuk yang tegas, elemen lengkung yang dikontraskan dengan garis lurus serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. 

Bentukan lengkung konstruksi kursi terlihat glamour, dengan karya seni tinggi.

Tampak beberapa bagian yang kusam karena termakan usia, tetapi kecantikannya tak pernah pudar. Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.

Perabotan antik yang bernuansa zaman kolonial era Hindia Belanda, menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi.


Elemen-elemen pola organik seperti tumbuhan bergaya vernakular Eropa yang banyak digunakan dalam perabotan kolonial Hindia Belanda antara tahun 1900 sampai tahun 1915-an.




Sangat kokoh dan tidak berubah hingga sekarang, paper marking dan stamp "THONET" masih terasa jejak-jejaknya walau sudah tergerus arus zaman dan waktu. 


Timeless Design Dari Michael Thonet

Sekian lama dijajah oleh Belanda, meninggalkan jejak yang tak pernah hilang, sampai sekarang.
Salah satunya pada desain perabotan interior dan arsitektur.

Gaya kolonial, demikian kita sering menyebutnya. Gaya kolonial kental dengan pengaruh Eropa, tak heran kalau seringkali terlihat mirip dengan gaya klasik.

Michael Thonet (2 Juli 1796 – 3 Maret 1871) membuat furniture kursi yang memiliki terobosan atau inovasi baru di dunia furniture kala itu.

Ia mulai menemukan komposisi lem yang kuat untuk konstruksi join antar komponennya dan yang paling mengagumkan saat itu, ia sudah bisa membentuk lengkung dari material kayu dengan menggunakan uap panas.

Inovasi tersebut menghasilkan desain kursi yang belum pernah ada sebelumnya. Kursi yang sederhana, elegant, lebih ringan, nyaman, dan tahan lama.

Desain kursi buatan Michael Thonet tersebut memang istimewa dan menjadi desain yang mendunia hingga saat ini. Kelebihan lain dari desain kursi tersebut adalah bisa masuk dalam segala style desain interior.

Seperti kebanyakkan kursi masa itu yang digunakan di Belanda dan Perancis pada abad ke-17 hingga
abad ke-18 yang terbuat dari kayu Walnut dan biasanya bersandarkan dan dudukan anyaman rotan.

Kayu Walnut sulit ditemukan dan harganya sangat mahal dan diolah dengan cara pemanasan dan pembentukan, disebut dengan teknik "bentwood" bentuknya yang elegan, telah membawa pengaruh dan kesan khusus bagi para pemakai kursi-kursi tersebut.

Kayu Walnut yang bisa memberikan nilai estetika tinggi. Jika anda cermati kursi kayu solid melengkung dan teknik sambungan knock down material berharga dan eksotik sehingga mebel ini sangat mahal dan hanya dimiliki orang kaya. Tertarik memilikinya ? SOLD OUT 

Kursi Goyang Indische 1910's

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Perabotan antik yang bernuansa zaman kolonial Belanda. Menonjolkan sisi yang mengombinasikan keelokan dan efisiensi.

Jika dilihat semua ornamen seperti tak berubah, walau usianya hampir 100 tahun lalu.

Kayu nya selalu pilihan. Semakin tua semakin berminyak, tanpa harus diberi obat khusus, kursi ini selalu mengkilap.

Proporsi badan dan posisi sandar sangat diperhitungkan.

Perabot ini merujuk pada kelas masyarakat menengah atas, yang dahulu sempat prominen dimasanya.

Selain ergonomis, sudut sandaran punggung kursi menunjang kenyamanan.

Detail-detail Eropa ini telah menghadirkan pemahaman akan ekspresi klasik budaya Jawa di masa itu.

Tekstur gradasi halus dan detail menjadi jaminan bagi karya seni dari masa lalu yang layak untuk dikoleksi.

Warna asli mulai tergradasi karena faktor usia dan pemakaian.

Jejak-jejak perabotan masa kolonial karakteristiknya yang kuat sebagai langgam yang mudah dikenal.

Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, meskipun kasar namun menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.


Menilik Kemegahan Warisan Kolonial...

Jenis perabot furniture meneer Belanda periode awal tahun 1910-an ini menjadi langka di tingkat yang mengkhawatirkan, hampir mustahil untuk menemukandalam kondisi baik dan utuh seperti ini.

Perabotan Indies ini, patut disyukuri karena masih berfungsi dengan baik dan utuh yang dapat menceritakan masa lalu.

Sepasang kursi goyang klasik ini masih menyisakan kemegahan tempo dulu yang ramah menyambut tamu. Suatu cerminan keterbukaan yang melahirkan karakter bangsa yang toleran.

Selektif dan berkelas, tak hanya dianggap klasik namun sekaligus memiliki citarasa seni. Mencerminkan simbol kekuasaan, status sosial, gaya hidup, cara berpikir masyarakat tempo doeloe dan kebesaran penguasa saat itu.

Apresiasi yang tinggi pada upaya pemeliharaan yang amat rapi, sehingga perabotan tersebut masih sangat kokoh dan dapat dipakai hingga saat ini. Berminat ?? SOLD OUT

Piano Stool 1903's

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun, rasanya seperti terlempar ke masa silam.

Semakin tua usia kayu, warnanya akan semakin matang dan lama-kelamaan muncul patina atau tekstur kayu.

Kursi Piano kuno ini dapat disetel ketinggiannya Adjustable (mudah dinaik-turunkan) dapat diatur fleksibilitasnya. Tekstur material dipertahankan seperti aslinya, menunjukkan proses alamiah yang terjadi pada perabotan tersebut.

Tempat duduk dilapisi dengan material yang cukup lunak dan bahan berkualitas. Bila diduduki sangat nyaman. Meski bekas, kualitasnya masih sangat terjaga. 

Walaupun konvensional demikian kecermatan dan ketelitian tampak dengan standar keahlian tinggi, bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. 

Bagian dasar kursi putar klasik memiliki empat kaki penopang untuk menjamin stabilitas dan kuat untuk menahan beban penggunanya. 

Berburu Stool Indisch semacam ini, bukanlah perkara mudah. Tak banyak yang tersisa dari desain kursi kuno ini. 

Foto ini menceritakan latar belakang sejarah budaya dibalik perabot mebel indah itu, untuk anak cucu kita kelak.


Eksotika Perabot Bergaya Kolonial...

Beberapa mebel peninggalan tempo dulu serta ragam corak ornamen yang menghiasinya, seolah bisa memutar waktu tempo dulu. Tiap perubahan jaman, desain dari furniture dapat berubah dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Sebagai bagian dari sejarah, perabotan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang.

Sebuah gaya desain konstruksi yang naif sekaligus memancarkan kejujuran. Apa adanya. Luar biasa rasanya, jika kita memiliki sebuah koleksi yang tidak berubah selama 100 tahun lebih.

Suatu kekayaan budaya yang menyimpan getar-getar sejarah pada masa Dutch East Indies. Tampilannya yang menarik dan tampak berumur menjadikannya barang collectible, karena sulit dicari. Mau ?? BOOKED

Konsol Besi Indische

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Daerah-daerah yang pernah makmur pada jaman kolonial Belanda atau yang menjadi pusat kependudukan di jaman V.O.C (Vereenigde Oostindische Compagnie) banyak didapatkan bangunan dengan konsol besi seperti ini.

Dengan model yang berkembang pada masa kolonial, selain kesempurnaan bentuk dan proporsi juga memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu dan cuaca tropis Hindia Belanda.

Konsol peyangga ini memiliki latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Eropa masa lampau. Dalam perjalanan waktu konsol besi seperti ini perlahan mulai jarang ditemui.

Besi jaman sekarang, dibuat dari besi tipis. Kualitasnya tentu kalah dibanding ini. Banyak orang pula yang mengagumi konsol besi model ini, karena bahannya yang terbuat dari besi solid yang nampaknya ada sekitar tahun 1910-an.

Meski berkarat dan renta konsol besi solid ini menyimpan banyak cerita tentang gambaran Indonesia pada jamannya, juga semangat jaman yang dipancarkan melalui konsol bekas jendela bangunan Landhuis Belanda tersebut.

Untuk menciptakan keawetan, material konsol ini dibuat dari plat besi baja solid. Inilah karakteristik desain konsol besi masa lampau dalam kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.

Sifat dan kelebihan material besi diolah dengan keahlian yang sempurna, adalah wujud yang terlihat selain kejujuran konstruksi, kekuatan garis, dan proporsi volume. 

Tak hanya kokoh dan indah, koleksi konsol besi ini membentuk ciri khas, serta menciptakan sense of space pada luar bangunan rumah.


Warisan Kemewahan Bangunan Gaya Kolonial...

Arsitektur warisan penjajahan Belanda, masih banyak ditemukan di Indonesia. Menerapkan ornamen dekoratif khas gaya klasik kolonial seperti punya keunikan yang tak tergantikan.

Konsol besi dengan nuansa lawas ini misalnya, sering memiliki tampilan yang dibiarkan apa adanya sekaligus bisa merekam ulang era masa keemasannya sebagai penyangga teritisan jendela-jendela bangunan Landhuis milik Meneer Belanda.

Konsol besi dengan bahan plat baja solid berukuran P.62 cm x L.62 cm ini boleh saja dilupakan tapi pesonanya ternyata tetap menggoda. Namun, kesederhanaan inilah yang banyak membuat orang dibuat tersenyum oleh nostalgia.

Tidak hanya secara fisik dan visual semata, namun menjadi refleksi zaman yang masih tampak indah hingga sekarang.

Usia dan desain antiknya menjadi daya pikat tersendiri, bahkan juga menciptakan sinergi unik untuk menarik perhatian. Mau ??? SOLD OUT

Kaca Patri Hindia Belanda

Author: Kedai Barang Antik / Labels:

Penggunaan ventilasi stained glass berfungsi mendapatkan pencahayaan yang alami kedalam ruang. Ventilasi termasuk salah satu pengaruh gaya kolonial Belanda yang menyesuaikan iklim setempat.

Seniman kaca patri pada masa Hindia Belanda di beberapa kota besar yang pada waktu itu jumlahnya sangat terbatas. Menjadi penanda kelas sosial pada masyarakat kolonial yang dibeda-bedakan berdasarkan ras dan status sosial.

Detail ornamen dan warna kaca menunjukan pekerjaan seni yang memerlukan kemampuan tinggi. Sebagai manifestasi dari arsitektural Indies yang berlaku pada zaman itu.

Jika melihat desain, produk itu tampaknya barang warisan zaman dulu. Desain motif coraknya klasik kolonial sekaligus unik, menampilkan gaya tahun 1910-an. 

Jejak-jejak kaca patri arsitektur bangunan kolonial karakteristiknya yang kuat sebagai langgam yang mudah dikenal.

Nampaknya kaca patri Indische di masa sekarang ini, belum mau dipensiunkan. Inilah koleksi arsitektural peninggalan sejarah kolonial di Indonesia. 

Kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya dengan segala keunikan, romantisme dan eksotisme masa lampau. 


Perjalanan Panjang Kaca Patri Indische...

Gerakan arsitektur Nieuwe Kunst (Art Nouveau gaya Belanda) akhir abad ke-19 berhubungan langsung dengan perkembangan arsitektur kolonial di Hindia Belanda.

Selama masa penjajahan Belanda yang ratusan tahun, teknik membangun Belanda juga dibawa ke Indonesia memberikan warna untuk arsitektur vernakular iklim tropis.

Penempatan kaca patri warisan kolonial Belanda itu bisa menjadi pusat perhatian, terutama bila diekspos dengan bentuk maupun letak yang mudah tertangkap oleh mata. Mempunyai desain bentuk klasik menghasilkan suasana cahaya tenang juga mempunyai aura yang sanggup menahan keabadian.

Keindahan perpaduan dan komposisi ragam hias serta permainan warna yang menarik diamati, tentu barang lama yang secara kualitas jelas tidak diproduksi sembarangan. Yang merujuk pada kelas masyarakat menengah atas dalam kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.

Nyatanya jendela kaca patri yang mempunyai ukuran P.88 cm x L.49,5 cm ini bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad. Berbahagialah anda yang masih menyimpannya, sisa-sisa yang bertahan oleh terjangan digital modernisasi.

Melihat koleksi kaca patri kuno ini kita seolah diajak berkelana ke masa silam, menguak kehidupan masyarakat di masa awal perkembangan kebudayaan Indies.

Tapi bukan pula yang bagus itu selalu replika. Sehingga sampai kini pun kondisinya tidak berubah, sungguh memikat bagi siapa saja yang melihatnya.