Bovenlicht Dutch East Indies

Author: Kedai Barang Antik / Labels:











Bovenlicht Bergaya Romanesque Revival...

Indonesia merupakan bekas jajahan Belanda selama lebih dari tiga ratus tahun. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap gaya arsitektur di Indonesia.

Pada rancangan bovenlicht angin-angin besi solid motif sulur-suluran bangunan kolonial mempengaruhi sirkulasi bangunan tersebut dan aktivitas didalamnya.

Sebenarnya para arsitek Belanda sejak jaman kolonial sudah menerapkan konsep untuk bangunan rumah bagi para bangsa Eropa yang tinggal disini, yang dapat kita lihat pada konsep bangunan-bangunan kolonial peninggalan masa lalu.

Bukaan-bukaan lebar, jendela jalusi, ventilasi di atas pintu atau jendela, plafon tinggi, aplikasi roster beton pada gewel atap, adalah solusi untuk menjawab masalah temperatur dan kelembaban tinggi di negeri tropis ini.

Koleksi Bovenlicht besi solid motif sulur-suluran ini menganut gaya Romanesque Revival dengan ciri yang dominan yaitu memiliki elemen-elemen arsitektural yang berbentuk lengkung sederhana dan dirancang dengan pendekatan iklim setempat.

Cara kerjanya, kruk espanyolet jika diputar ke arah kiri, maka roda gigi menggerakan pelat yang bergerigi atau pelat yang berlubang-lubang yang berfungsi untuk memaksimalkan udara yang masuk ke dalam ruangan dan juga berfungsi sebagai lubang cahaya.

Pada masa itu, koleksi bovenlicht tersebut dikirim dari Belanda dan setibanya di Indonesia dirakit dan dipasang di gedung-gedung Pemerintah Hindia Belanda.

Bagi kalangan pecinta koleksi peninggalan Dutch East Indies, kita bukan hanya menikmati aspek estetika melainkan juga nilai arkeologisnya.

Bovenlicht besi solid memukau ini mempunyai ukuran diameter 28,5 cm ini serasa bagai kembali ke masa silam, jaman kolonial. Walaupun hampir punah namun mempunyai keunikan yang tak tergantikan. Berminat ?? SOLD OUT

Electrische Koffiebranderij Semarang

Author: Kedai Barang Antik / Labels:






Merek Djadoel dan Kerawanan Generasi Ketiga...

Kopi, siapa yang tidak kenal minuman satu ini. Indonesia juga merupakan negara penghasil kopi terbaik dunia. Toko kopi merek lokal ini memang betul-betul dari masa van voor de oorlog.

Pada masa itu toko semacam ini disebut koffiebranderij atau coffee roaster atau penggoreng kopi, dan Electrische Koffiebranderij Semarang Mritjan adalah koffiebranderij andalan kota Semarang dengan nama perusahaan "G. H. Tan"

Desain merek kopi ini sangat lokal. Bukan hanya lokasi pabrik dan peredarannya, melainkan juga mereknya. Ilustrasi logo kemasan wanita Tionghoa dengan pakaian tradisional sedang memasak air sebagai visual utamanya.

Sungguh latar belakang historis yang dipengaruhi oleh budaya Cina. Bagi penikmat kopinya, mereka adalah simbol pemanjaan dorongan hedonistis.

Pada era itu, hampir semua produk dibuat dalam industri rumahan dengan modal yang mungkin tidak terlalu besar. Yang menarik, hampir semua produk itu dibuat oleh penduduk Indonesia keturunan Cina. Pada zaman itu, penjajah Belanda memang memposisikan mereka sebagai saudagar atau kelas pedagang.

Di masa lalu toko semacam ini disebut koffiebranderij (coffee roaster, penggoreng kopi), sama dengan Tek Sun Ho di Jakarta yang kini ber "metamorfosa" menjadi "Bakoel Koffie". Setiap kota mempunyai koffiebranderij andalan masing-masing. "Aroma" adalah andalan Bandung yang masih berjaya hingga kini.

Pada akhirnya, daya tahan merek itu semuanya memang bergantung pada pemiliknya. Dalam banyak kasus, mulusnya regenerasi atau suksesi sangat mendukung keberhasilan produk itu bertahan di tengah persaingan
bisnis yang ketat.

Generasi pertama merintis dan membangun dalam kemiskinan, generasi kedua gigih mengembangkan kejayaan, dan generasi ketiga ongkang-ongkang kaki menghabiskan kekayaan keluarga.

Ada puluhan merek Indonesia yang mampu bertahan lebih dari setengah abad. Memang, belum ada merek lokal yang mampu bertahan sampai ratusan tahun. Tertarik memilikinya ??  SOLD OUT

The Masterpieces of Batik Eliza van Zuylen

Author: Kedai Barang Antik / Labels:


Woman's Hip Wrapper (Sarong), E. van Zuylen (1910-1920)


Bagi kalangan pecinta batik, siapa yang tak kenal batik E.van Zuylen ?? Eliza van Zuylen adalah maestro pembuat batik di Indonesia kelahiran Belanda. Dia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1863-1947 saat Belanda menjajah Indonesia. Setelah tahun 1860, Pekalongan menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai batik Belanda.

Gaya Indo-Belanda di awal 1900-an ditandai dengan gaya yang sederhana gambar burung, bunga, pola geometris dan garis diagonal yang sederhana. Koleksi Eliza van Zuylen merupakan merek dagang dari batik Pekalongan dan ditiru sepanjang seluruh pantai utara pada masa itu.

Melalui teknik pewarnaan alami yang rumit, bengkel batik milik pengusaha Eliza van Zuylen menghasilkan gradasi warna yang sempurna dari setiap helai warna kain tersebut. Kebiasaan membubuhkan tanda tangan dan tanda cap oval pada setiap lembar batiknya untuk menunjukkan tiap lembar kain dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan.

Eliza Charlotte (Lies) van Zuylen menandatangani " E v Zuylen " sebagian besar batik produksi nya itu untuk menjamin keaslian, ukurannya 210,0 cm ( h ) x 108,0 cm ( w ). Karena banyak dari para pekerja pembuat batik nya bekerja di rumah mereka sendiri, terutama selama periode puncak masa kejayaannya.

Kain ini juga memiliki penandaan cap oval hitam di sudut bagian, " Batikkerij " (workshop batik ) / Mevr. E. van Zuylen - Pekalongan. Karena itu saya memperkirakan kain batik ini berasal dari sekitar awal tahun 1910-an.

Tanda tinta cap oval ini mewakili ukuran keamanan keaslian karya, efektif mencegah penjualan batik yang belum selesai kepada pihak ketiga. Tanda cap membuktikan kain batik adalah asli Eliza van Zuylen dibuat di bawah pengawasan pribadi, dan dia sendiri dicatat adalah seorang perfeksionis dalam berkarya.

Pilihan warna terbatas di sini mungkin karena fakta bahwa kain ini dibuat sebelum kedatangan pewarna sintetis di Hindia Belanda.

Penguasaan teknis, desain dan kualitas kain (di impor langsung dari India), bagaimanapun, membuatnya berbeda. Sering terinspirasi oleh bunga pada kartu ucapan Belanda, karangan bunga, seperti yang ditunjukkan pada bagian kain ini. Jenis batik tulis periode awal Indo-Belanda, saat ini sangat dicari di seluruh komunitas kolektor batik dunia .

KONDISI :

Jenis kain batik periode awal tahun 1910-an ini menjadi langka di tingkat yang mengkhawatirkan, hampir mustahil untuk menemukan.

Dalam kondisi baik dan bersih, warna masih cerah, tidak ada lubang ngengat, tidak ada perbaikan maupun tisikan.

Kondisi yang sangat terawat baik, biasanya menunjukkan bahwa kain ini telah disimpan dengan sangat baik untuk waktu yang sangat lama.

Kemilau pada permukaan kain seperti yang terlihat dalam gambar foto tersebut adalah seperti dalam kondisi aslinya .

Pegangan kain ini sangat tipis namun kuat, kain masih renyah ("kemresek") setelah bertahun-tahun lamanya disimpan.

Setiap kali saya harus mengingatkan diri sendiri, bahwa saya tidak sedang memegang selembar kertas  :)) Tertarik memilikinya ???  SOLD OUT

The Glamour Of Belt Buckle

Author: Kedai Barang Antik / Labels:





Ikat Pinggang Oriental

Gaya oriental juga penuh dengan makna dan simbolisasi. Ini membuatnya semakin menarik. Ikat pinggang motif burung hong sungguh mempesona, aksesoris perempuan masa lalu ini memperkuat kesan oriental di bagian pinggang pakaian atau sarung kebaya terlihat glamour.

Ornamen pesisir memiliki motif yang khas, biasanya corak flora atau fauna (bunga, daun-daunan, atau burung) ini terpancar anggun oleh keindahan dan orisinalitas. Kelangkaannya yang bikin bernilai.

Kerumitan membuat sebuah ikat pinggang China Peranakan yang mempunyai ukuran P.87 cm dengan kesempurnaan pengerjaan yang dipesan secara khusus sebagai gaya hidup yang serba mewah karena dianggap bisa dijadikan sebagai simbol status dan keagungan. Tertarik memilikinya ?? SOLD OUT

Penjepit Kelambu Perak

Author: Kedai Barang Antik / Labels:






Penjepit Kelambu Peranakan....

Gantungan kelambu ranjang kuno dengan motif dan warna yang unik dan jarang ada memperkuat kesan oriental. Ditambah usianya yang tergolong antik, membuat gantungan kelambu kuno dengan bahan perak tekstur dan kerapian pengerjaan yang dihasilkan sangat luar biasa ini semakin menarik hati.

Jika dicermati motif burung hong gantungan kelambu yang terbuat dari perak ini memiliki makna khusus. Ia melambangkan kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. Itu sebabnya, gantungan kelambu selalu ada, terutama pada keluarga yang berkecukupan terutama para pedagang dari etnis tertentu sebagai simbol status dan keagungan.

Bagi anda yang tidak terlalu memikirkan makna sebuah simbolisasi sebuah gantungan kelambu, memasang gantungan kelambu bisa mempercantik tampilan ruangan. Mempunyai ukuran panjang 20 cm ini sangat kental dengan pengaruh budaya China Peranakan. Kini, setelah penjepit gantungan kelambu dari bahan perak ini tidak lagi diproduksi, justru banyak orang memburunya. Berminat memilikinya ? SOLD OUT

Meja Wastafel Antik

Author: Kedai Barang Antik / Labels:












Perabotan Masa Periode Vereegnide Oost Indische Compagnie (V.O.C)

Para Meneer Belanda memang punya perhatian pada iklim tropis, tak hanya mengadaptasi arsitektur tropis pada bangunan tetapi juga rancangan perabot untuk bentuk bangunan tersebut. Salah satunya adalah koleksi perabot meja wastafel yang konstekstual dengan gaya bangunannya.

Perabotan bergaya Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Pada masa ini, orang juga menggunakan trend perabot masa Sir Thomas Stamford Raffles berkuasa.

Gaya perabot ini sebenarnya termasuk tipe Sheraton yang berkembang di Inggris. Namun, karena nama Raffles lebih dikenal di Jawa, maka lebih dikenal dengan sebutan perabotan bergaya Raffles.

Ketegasan garis-garis struktur kayu itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya. Selain jenis kayu, menarik juga untuk dicermati bagaimana meja wastafel ini dibuat dengan rapi. Sambungannya tidak menggunakan paku melainkan dengan kayu sendiri melalui sistem sambungan yang disebut dengan istilah buntut burung.

Keramik tempat basuh muka buatan Maastricht souvenir dari kapal era Dutch East Indies - Koninklijke Paketvaart Maatschappij (K.P.M) ini mempunyai ukuran T.9 cm x Diameter 30 cm. Sedangkan meja wastafel ini mempunyai ukuran P.86,5 cm x L.45 cm x T.83,5 cm.

Namun, setelah zaman kolonialisme Belanda berakhir di era 1930-an, perabotan meja wastafel ini pun ikut punah dengan sendirinya.

Di saat tren minimalis sedang digandrungi masyarakat kota, konsep perabotan bergaya Indies masih tetap menjadi alternatif desain yang tak lekang oleh waktu. Berminat memilikinya ?? SOLD OUT

Belt Buckle Peranakan

Author: Kedai Barang Antik / Labels:








Pesona Sabuk Gesper Encim Masa Lampau...
 

Akulturasi Tionghoa dengan beragam etnis di Indonesia sangat kentara, lihat saja tradisi dan kebudayaan saling-silang, mendekati kedua bangsa. Koleksi ini merupakan jejak sejarah yang merekam bentuk eksotisme nilai paduan gaya tradisional Tionghoa di bumi Nusantara pada masa lampau.

Pada abad ke-19 hingga abad ke-20, baju kurung khas Tionghoa telah ditinggalkan, beralih pada kebaya encim yang terus mengalami perkembangan zaman, di sesuaikan mode.

Meski masih kental corak Tionghoa pada bordir dan renda-renda, juga aksesoris;  ikat pinggang, tusuk konde, liontin, bros, gelang hingga set kembang goyang untuk pengantin.

Kerumitan membuat sebuah ikat pinggang China Peranakan yang mempunyai ukuran P.82 cm ini memperkuat kesan oriental dan terlihat glamour bisa dijadikan sebagai simbol status dan keagungan.

Status seseorang ditunjukkan melalui kualitas aksesoris yang dipakai, desain-desain dan perhiasan. Dalam perjalanan waktu koleksi ikat pinggang bernuansa China Peranakan seperti ini perlahan mulai jarang ditemui. Tertarik ?? SOLD OUT